Wajah pariwisata di timur Sleman bersiap berubah. Proyek Prambanan Heritage Skyline mulai masuk tahap awal pembangunan setelah mengantongi persetujuan prinsip dari Pemda DIY.
Proyek kereta gantung senilai Rp200 miliar ini tidak hanya menjadi wahana rekreasi, tetapi juga dirancang sebagai penghubung kawasan wisata dengan infrastruktur nasional, termasuk ruas Tol Jogja–Solo.
Jalur kereta gantung akan membentang dari kawasan Candi Banyunibo di Kalurahan Bokoharjo hingga Tebing Breksi di Kalurahan Sambirejo.
Dari ketinggian, wisatawan bisa menikmati panorama Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko, sekaligus merasakan pengalaman wisata udara yang selama ini belum tersedia di kawasan tersebut.
Selain menawarkan daya tarik baru, proyek ini juga diproyeksikan memperkuat koridor strategis Borobudur–Yogyakarta–Prambanan.
Aksesnya akan terhubung dengan exit toll Bokoharjo, sehingga memudahkan wisatawan dari luar daerah.
Kepala DPMPTSP Sleman, Triana Wahyuningsih, menegaskan pembangunan tidak hanya berorientasi pada ekonomi, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan.
“Pengembangan kawasan ini tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Pemkab Sleman memastikan seluruh proses perizinan akan dilalui secara ketat. Kajian seperti AMDAL, kesesuaian tata ruang, hingga dampak sosial budaya akan dilakukan untuk menjaga kawasan cagar budaya tetap terlindungi.
Di sisi lain, proyek ini diharapkan memberi dampak langsung bagi warga.
Lurah Bokoharjo, Dody Heriyanto, mendorong agar masyarakat lokal dilibatkan, baik dalam proses pembangunan maupun operasional.
Menurutnya, keterlibatan warga penting agar proyek ini tidak hanya menjadi ikon wisata baru, tetapi juga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendongkrak PAD Sleman. (*)














