Harga Mie Ayam Naik, Tanda Ekonomi Rakyat Sedang Tidak Baik

0
1
Ardhike Indah, salah satu peserta aksi demo Aliansi Rakyat Memanggil di Gejayan, menyuarakan kegagalan pemerintah melalui analisa mie ayam. (istimewa)

Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil menggelar aksi unjuk rasa di Pertigaan Gejayan, Jalan Affandi, Caturtunggal, Depok, Sleman, Sabtu (13/6/2026).

Dalam aksi tersebut, mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya karena dinilai gagal meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Massa yang didominasi pakaian serba hitam memadati kawasan Gejayan sambil membawa berbagai spanduk dan poster.

Sebuah mobil pikap digunakan sebagai panggung orasi. Akibat aksi tersebut, arus lalu lintas menuju simpang Gejayan sempat ditutup dan dialihkan ke jalur alternatif.

Perwakilan Aliansi Rakyat Memanggil, Marsinah, menyebut aksi digelar sebagai bentuk protes terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai tidak menyentuh kebutuhan rakyat.

“Hari ini kami menuntut Prabowo-Gibran turun karena tidak mampu memperbaiki kehidupan rakyat. MBG, Koperasi Desa Merah Putih, hingga Danantara justru kami lihat berpotensi menjadi celah korupsi,” ujar Marsinah.

Senada dengan itu, salah satu peserta aksi, Ardhike Indah, menilai kondisi ekonomi masyarakat dapat dilihat dari hal sederhana, yakni harga semangkuk mie ayam di tingkat pedagang kecil.

Menurutnya, harga jajanan merupakan indikator paling jujur untuk membaca kondisi ekonomi masyarakat. Ketika harga mie ayam naik atau porsinya menyusut, hal itu menunjukkan adanya persoalan yang lebih besar di tingkat makro.

“Kalau harga mie ayam naik atau porsinya makin kecil, itu alarm bahwa ada yang tidak beres dalam ekonomi. Mie dibuat dari tepung terigu yang bahan bakunya gandum impor. Saat rupiah melemah atau terjadi gejolak global, dampaknya langsung terasa sampai ke gerobak mie ayam,” kata dia.

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan baku, distribusi yang mahal, hingga biaya energi seperti BBM dan LPG turut menambah beban pedagang. Sementara itu, pendapatan masyarakat dinilai tidak mengalami kenaikan yang sebanding.

“Masalahnya, ketika harga mie ayam naik, upah masyarakat tidak ikut naik. Jadi kalau semangkuk mie ayam makin mahal atau porsinya makin ciut, itu menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang sering dibanggakan belum benar-benar dirasakan rakyat kecil,” tandasnya. (*)