
Dishub Kota Jogja dan Kepolisian telusuri oknum tukang parkir liar pemilik karcis parkir bertarif Rp50.000 yang ditulis tangan. Sebelumnya kasus ini mencuat di media sosial setelah seorang pengguna sosial media dengan akun @rez* mengeluhkan diminta membayar tarif parkir sebesar Rp50.000 saat parkir di Jalan Suryatmajan, depan Kompleks Kepatihan Jogja.
Dalam unggahannya, pengguna tersebut mengaku diarahkan ke lokasi parkir di ruas jalan tak jauh dari pintu keluar Kompleks Kepatihan.
Ia mengira lokasi tersebut legal, namun kaget saat oknum juru parkir hanya memberikan sobekan kertas dari buku tulis bertuliskan tangan, lengkap dengan nominal Rp50.000 dan tanda tangan.
Kepala DishubKota Jogja, Agus Arif Nugroho membenarkan adanya laporan tersebut. Ia menyatakan, saat ini pihaknya telah berkoordinasi dengan Polresta Jogjauntuk menyelidiki keberadaan dan pelaku parkir liar tersebut.
“Lokasi tepatnya masih kami selidiki karena area depan Kepatihan cukup panjang. Penanganan dilakukan bersama teman-teman dari Reskrim,” ujar Agus saat dikonfirmasi, Senin (28/7/2025).
Agus menegaskan bahwa karcis parkir resmi dari Pemkot Jogjamemiliki identitas yang jelas, seperti nomor seri dan nama lokasi. Jika ditemukan pelanggaran berupa pemalsuan karcis, pelaku bisa dikenai sanksi hukum.
“Kalau karcis resmi dicoret atau dipalsukan, akan terlihat dari nomor serinya. Tapi untuk saat ini, kami masih menunggu hasil penyelidikan dari kepolisian,” imbuhnya.
Menurutnya, praktik parkir liar tersebut kerap memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat, terutama wisatawan luar kota.
Sementara itu, Supri, salah satu juru parkir resmi yang bertugas di sisi barat ruas jalan Suryatmajan, mengaku prihatin dengan adanya praktik seperti itu.
“Nek resmi itu tarifnya jelas. Mobil pribadi ya Rp5.000 per dua jam, selanjutnya Rp2.500 per jam. Yang seperti ini mencoreng nama tukang parkir lain,” ujarnya.
Supri, yang telah aktif sebagai juru parkir sejak 2009, mengatakan bahwa ia selalu bekerja sesuai aturan dan tidak pernah mematok tarif tak wajar.
“Kalau saya gak berani macem-macem. Risikonya bikin malu,” ucapnya.(*)













