
Warga penerima bantuan sosial (bansos) di DIY bisa kehilangan hak bantuan bukan karena kondisi ekonominya membaik, tetapi karena status desil kesejahteraannya tiba-tiba berubah.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DIY Suyarno mengatakan, warga yang sebelumnya berada di desil 1-4—kelompok yang menjadi sasaran bansos—dapat mendadak masuk desil 7, 8, 9, bahkan 10.
“Perubahan ini bisa membuat penerima bansos jadi berkurang,” kata Suyarno, Kamis (20/8/2026).
Menurut dia, perubahan tersebut menjadi persoalan ketika data pusat tidak lagi menggambarkan kondisi riil keluarga. Warga yang secara ekonomi masih membutuhkan bantuan bisa tersingkir karena peringkat kesejahteraannya berubah.
“Ketika keluar dari desil 1 sampai 4, bisa ada 7, 8, 9. Otomatis enggak bisa menerima bansos, padahal riilnya harusnya masih bisa menerima bansos karena kondisi keluarga, pendapatan dan yang lainnya memang layak masuk di desil 1 sampai 4,” ujarnya.
Persoalan muncul setelah BPS pusat menggabungkan sejumlah sumber data, antara lain data BKKBN dan hasil sensus ekonomi. Perbedaan indikator dan sumber data dinilai dapat memunculkan persoalan saat seluruhnya dipadukan.
Yang membuat Dinsos DIY semakin kesulitan, perubahan desil disebut dapat terjadi jauh lebih cepat dari pemutakhiran yang semestinya dilakukan tiga bulanan.
“Bisa dalam satu dua hari desilnya berubah,” kata Suyarno.
Jika hasil pemadanan data menunjukkan desil penerima naik di atas 4, penyaluran bansos terpaksa ditunda sambil menunggu perbaikan data. (*)
















