Melawan Canggung dan Lupa, Akademisi Jogja Hadirkan Aplikasi MySADARI

0
2
Dosen Program Studi Kebidanan Unisa Yogyakarta, Intan Mutiara Putri, memperkenalkan aplikasi MySADARI yang dirancang untuk membantu perempuan mengenali kesehatan payudara dan mengingat jadwal pemeriksaan mandiri. (Zukhronnee muhammad)

Rasa canggung, malu, hingga kesibukan sehari-hari kerap membuat perempuan menunda pemeriksaan kesehatan payudara. Edukasi yang diberikan melalui selebaran pun tak selalu berujung pada kebiasaan memeriksa diri secara rutin. Di tengah persoalan tersebut, akademisi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian perempuan melalui aplikasi digital MySADARI.

Aplikasi ini dirancang untuk membantu perempuan mengenali perubahan pada payudara, memahami faktor risiko, sekaligus mengingat waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari).

“Para kader menyampaikan bahwa ketika menggunakan leaflet, sesampainya di rumah mereka sering lupa. Dari kebutuhan untuk mengingat kembali kapan waktu tepat melakukan Sadari itulah kami menghadirkan aplikasi MySADARI,” ungkap dosen Program Studi Kebidanan Unisa Yogyakarta, Intan Mutiara Putri, S.ST., M.Keb. dalam konferensi pers di kampus Unisa Yogyakarta, Rabu (4/11/2026).

Berawal dari Selebaran yang Terlupakan

MySADARI tidak lahir semata-mata dari gagasan pengembangan teknologi. Aplikasi ini berangkat dari persoalan sederhana yang ditemukan di tengah masyarakat: informasi kesehatan sudah diberikan, tetapi belum tentu diingat dan diterapkan.

Pada 2022, tim peneliti Unisa Yogyakarta menerima hibah pengabdian masyarakat dari Kemendiktisaintek (Kemendikbudristek). Bekerja sama dengan Puskesmas Kasihan I, Bantul, mereka melibatkan kader kesehatan setempat untuk memahami kebutuhan edukasi yang lebih efektif.

Dari pengalaman tersebut, tim melihat perlunya media yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membantu pengguna menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kebiasaan Sadari yang sebelumnya bergantung pada ingatan dan pemahaman dari selebaran kemudian dikemas dalam aplikasi yang lebih personal, interaktif, dan dapat diakses melalui ponsel.

Pendekatan ini sekaligus menjadi upaya mengurangi kecanggungan perempuan dalam memperoleh informasi kesehatan payudara. Edukasi dapat diakses secara mandiri melalui ruang pribadi, tanpa harus merasa malu atau sungkan.

Empat Fitur untuk Mendampingi Sadari

MySADARI dirancang sebagai panduan mandiri dengan empat fitur utama yang saling melengkapi.

Pertama, skrining faktor risiko mandiri. Pengguna menjawab sejumlah pertanyaan mengenai kondisi dan riwayat kesehatan, mulai dari riwayat keluarga dengan kanker payudara, menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun, hingga belum pernah melahirkan atau menyusui kurang dari enam bulan.

Skrining juga mencakup usia melahirkan anak pertama di atas 35 tahun, penggunaan kontrasepsi hormonal jangka panjang seperti pil, suntik, dan implan, menopause setelah usia 50 tahun, serta faktor gaya hidup seperti konsumsi alkohol, merokok, dan obesitas.

Apabila terdapat jawaban yang mengindikasikan faktor risiko, aplikasi akan memberikan peringatan agar pengguna lebih waspada.

Intan menegaskan, hasil skrining tersebut bukan diagnosis atau vonis kanker. Peringatan hanya menjadi pengingat bagi pengguna untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan dan berkonsultasi dengan tenaga medis.

Kedua, panduan visual langkah demi langkah. Fitur ini menyajikan gambar dan tutorial gerakan pemeriksaan payudara sendiri. Pengguna dapat mengikuti panduan saat berada di depan cermin, ketika mandi, maupun saat berbaring.

Ketiga, pengingat otomatis melalui pengaturan siklus menstruasi. Pengguna memasukkan tanggal hari pertama menstruasi, kemudian aplikasi membantu menentukan jadwal pemeriksaan.

“Secara teori, Sadari idealnya dilakukan pada hari ketujuh sampai ke-10 menstruasi. Sebelum menstruasi, payudara kerap terasa tegang dan nyeri akibat pengaruh hormonal, yang bisa mengaburkan penilaian terhadap rasa nyeri abnormal,” jelas Intan.

Bagi perempuan yang telah menopause, aplikasi tetap dapat digunakan dengan mengatur jadwal pemeriksaan rutin pada tanggal yang sama setiap bulan.

Keempat, katalog informasi dan edukasi. Fitur ini menyediakan informasi seputar kanker payudara untuk membangun kesadaran sejak usia remaja. Dalam pengembangannya, tim menyebut usia 18 tahun sebagai rekomendasi awal penggunaan berdasarkan panduan American Cancer Society.

Diuji secara Ilmiah, Data Disimpan di Server Unisa

Pengembangan MySADARI berlanjut setelah tahap pengabdian masyarakat. Pada 2025, tim peneliti menguji efektivitas aplikasi melalui hibah penelitian RisetMu dengan melibatkan kelompok mahasiswa nonkesehatan selama dua minggu.

Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan dan sikap pengguna terhadap deteksi dini kanker payudara.

Saat ini, MySADARI dapat diunduh secara gratis melalui Google Play Store untuk perangkat berbasis Android.

Tim juga memperhatikan aspek keamanan data pengguna. Data registrasi disimpan di server internal Unisa Yogyakarta yang dikelola Biro Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi (BPTSI). Sistem login menggunakan username dan password pribadi.

Ke depan, pengembang berencana memperluas sasaran pengguna, termasuk perempuan yang menggunakan kontrasepsi KB suntik rutin. Tim juga menjajaki pengembangan platform berbasis website agar aplikasi dapat diakses tanpa harus mengunduhnya terlebih dahulu.

Dari Kesehatan Payudara hingga Pendampingan Ibu dan Anak

MySADARI menjadi salah satu inovasi yang diperkenalkan Unisa Yogyakarta dalam kampanye “Riset Tepat Masyarakat Sehat”.

Kepala Biro Humas dan Protokol Unisa Yogyakarta, Sinta Maharani, menjelaskan kampanye tersebut bertujuan menjembatani hasil penelitian dosen dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, riset tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat diterapkan dan dirasakan manfaatnya secara langsung.

Selain MySADARI, Unisa Yogyakarta memperkenalkan sejumlah inovasi kesehatan perempuan dan anak yang mencakup berbagai tahap kehidupan.

KursiMu (Kursi Oksitosin Ibu Menyusui) merupakan inovasi kursi khusus yang dikembangkan tim akademisi, termasuk Rosmita. Kursi ini dirancang untuk merangsang hormon oksitosin guna mendukung kelancaran produksi ASI.

Ada pula SErBet (Smart Sensor Bracelet), gelang sensor berbasis Internet of Medical Things (IoMT) untuk mendukung deteksi dini risiko stunting pada anak sekaligus menjadi sarana edukasi tumbuh kembang bagi ibu.

Sementara itu, GOE-KB (Gendongan Oksitosin Ergonomis) dirancang untuk meningkatkan kenyamanan serta kedekatan fisik dan emosional antara ibu dan bayi melalui desain gendongan yang ergonomis.

“Kampanye yang sedang kami jalankan ini berfokus pada kesehatan perempuan sepanjang daur hidupnya. Mulai dari deteksi dini kanker payudara, pencegahan stunting, pendampingan masa bayi dengan gendongan oksitosin, hingga KursiMu untuk mendukung ibu menyusui,” pungkas Sinta.

Melalui rangkaian inovasi tersebut, Unisa Yogyakarta berupaya membawa riset kesehatan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. MySADARI menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan bukan sekadar untuk menyampaikan informasi, tetapi juga membantu membangun kebiasaan menjaga kesehatan secara mandiri. (*)