Di Balik Den Baguse Ngarso, Ada Susilo yang Tak Pelit Ilmu untuk Siapapun

0
3
Suasana pelayat mengantarkan kepergian seniman Susilo Nugroho di peristirahatan terakhirnya. (zukhronnee muhammad)

Kepergian seniman teater dan komedian Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso meninggalkan duka bagi pekerja seni Jogja. Di balik karakter ikoniknya dalam serial Mbangun Deso, Susilo dikenang sebagai sosok yang terbuka berbagi pengalaman dan memberikan masukan kepada generasi muda.

Seniman peran sekaligus sutradara teater tradisi Elyandra Widharta mengatakan, Susilo tidak segan berdiskusi dengan kelompok-kelompok seni muda, termasuk mereka yang masih mengembangkan pertunjukan berbahasa Jawa.

“Kami mengenalnya karena saya punya kelompok Sedhut Senut pernah sinau sama Pak Sus. Cuman ngobrol informal. Ya cuman ngobrol soal teater hari ini di Jogja kayak apa,” kata Elyandra, dengan suara bergetar.

Menurut Elyandra, Susilo banyak memberikan masukan kepada kelompok seni meski pemula.

Susilo meninggal dunia pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 17.00 WIB di kediamannya di Mantrijeron, Kota Yogyakarta, dalam usia 67 tahun.

Jenazah Susilo dimakamkan di TPU Krapyak, Sewon, Bantul, Selasa (22/9/2026) pukul 16.00 WIB. Sebelum diberangkatkan, jenazah disemayamkan di rumah duka di Jalan Cuwiri, Mantrijeron.

Ratusan pelayat dari berbagai kalangan hadir memberikan penghormatan terakhir, mulai masyarakat, tetangga, pejabat daerah, hingga pekerja seni tradisi dan modern.

Pembawa acara sekaligus komedian Alit Jabang Bayi mengenang Susilo sebagai seniman yang berani menyampaikan kritik melalui humor, bahkan kepada orang-orang yang memiliki posisi tinggi.

“Bangga banget, Mas. Satu-satunya seniman dagelan yang berani roasting kepada klien tuh menurutku adalah beliau. Pak Sus tuh iso ngroasting orang-orang tinggi (jabatannya), orang-orang besar, tapi dengan soft ngono lho,” ujar Alit.

Sementara Dhienda, manager Band FSTVLST yang hadir di pemakaman mengatakan kepergian Susilo membuat dunia seni peran di Jogja hampa.

“Belum ada penggantinya. Belum ada yang seperti Pak Sus,” ujarnya.

Bagi rekan-rekannya, warisan Susilo bukan hanya karakter Den Baguse Ngarso. Ia meninggalkan keberanian berkarya, keterbukaan kepada generasi muda, serta cara khas menggunakan humor untuk menyampaikan kritik. (*)