
Di tengah kepanikan akibat gempa M 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), 61 mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memilih tetap berada di lokasi untuk membantu warga terdampak.
Para mahasiswa dipastikan selamat. Setelah berkoordinasi dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), program KKN mereka dialihkan menjadi kegiatan tanggap darurat hingga masa tugas berakhir.
Di Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, warga terdampak menghadapi kerusakan fasilitas dan keterbatasan kebutuhan dasar. Di Kelurahan Pota dan Desa Nanga Mbaling, sejumlah warga bahkan mendirikan tenda pengungsian secara mandiri di sekitar posko KKN.
Anggota Tim Proyek Ekspedisi Nusantara (PENA) 11 UMY di Desa Nanga Mbaling, Fifin Anggela Prista, mengatakan kebutuhan mendesak warga saat ini antara lain makanan, air minum, obat-obatan, alat kesehatan, dan tenda.
“Kondisi layanan kesehatan menjadi perhatian. Sejumlah warga mengalami luka ringan hingga berat, sementara akses terhadap obat-obatan dan fasilitas medis terbatas,” ujarnya Minggu (16/8/2026).
Sebanyak 35 mahasiswa KKN di Desa Nanga Mbaling telah bergerak melakukan aksi tanggap darurat. Mereka mendirikan tenda pengungsian, membuka dapur umum, membagikan makanan, mendata kebutuhan warga, memberikan pertolongan pertama, mendistribusikan air bersih, serta mendampingi anak-anak, lansia, dan ibu hamil atau menyusui.
Kepala Subdirektorat Pengabdian Mahasiswa UMY, Dr. Al-Afik, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan kampus terus melakukan asesmen kondisi lapangan.
Selain itu juga memastikan mahasiswa terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait. (*)













