Listrik Sering Padam, Keuntungan Hotel Tergerus

0
7
Ilustrasi pendukung berita pemadaman listrik di hotel. (dibuat menggunakan akal imitasi)

Musim libur sekolah yang biasanya menjadi masa panen bagi industri perhotelan di Jogja tahun ini belum sepenuhnya membawa berkah.

Di tengah meningkatnya jumlah tamu, hotel justru harus menanggung lonjakan biaya operasional akibat pemadaman listrik yang berulang dalam beberapa pekan terakhir.

Tak hanya menguras bahan bakar genset, listrik yang kerap padam dan tegangan yang tidak stabil juga menyebabkan sejumlah peralatan elektronik hotel rusak.

Akibatnya, keuntungan yang seharusnya diperoleh dari ramainya wisatawan tergerus oleh biaya tambahan yang tidak sedikit.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengatakan hotel-hotel di DIY kini menghadapi situasi yang serba sulit. Saat okupansi meningkat, biaya operasional justru melonjak lebih tinggi.

“Okupansi memang naik, tapi biaya operasional juga naik cukup tinggi karena mati listrik terus-menerus,” kata Deddy, Selasa (23/6/2026).

Menurutnya, pemadaman listrik yang berlangsung hingga sekitar tiga jam memaksa hotel mengandalkan genset agar layanan kepada tamu tetap berjalan. Konsekuensinya, konsumsi solar meningkat dan menambah pengeluaran operasional.

Belum selesai sampai di situ, sejumlah hotel juga melaporkan kerusakan televisi, AC, hingga komputer akibat naik-turunnya tegangan listrik. Kerusakan tersebut memaksa pengelola mengeluarkan biaya tambahan untuk perbaikan maupun penggantian perangkat.

“Biaya operasional jadi naik karena alat elektronik rusak,” ujarnya.

Padahal, periode libur sekolah biasanya menjadi salah satu andalan sektor perhotelan untuk mendongkrak pendapatan. Untuk masa liburan 26 Juni hingga 14 Juli 2026, tingkat reservasi hotel di DIY tercatat berada di kisaran 40-50 persen.

Namun, kenaikan okupansi sekitar 15-20 persen belum mampu menutupi lonjakan biaya operasional yang disebut mencapai 20-25 persen. Di sisi lain, hotel juga sulit menaikkan tarif kamar karena daya beli masyarakat masih melemah. (*)