Larangan Bus Pariwisata Parkir di Senopati, Omzet Pedagang Anjlok hingga Nol

0
17
Kondisi parkiran Senopati dan kios-kios yang kini sepi. (zukhronnee muhammad)

Kawasan Parkir Senopati yang selama ini menjadi salah satu pusat pergerakan ekonomi wisata di Kota Jogja kini lengang setelah kebijakan larangan parkir bus pariwisata diberlakukan. Dampaknya, ratusan pedagang kecil kehilangan sumber utama pembeli, dengan penurunan omzet hingga nol.

Kondisi ini dirasakan langsung para pelaku usaha yang selama bertahun-tahun bergantung pada arus wisatawan rombongan. Kini, suasana yang sebelumnya ramai berubah drastis menjadi sepi, memukul aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Jumiyati, pedagang makanan yang berjualan sejak 2006, mengaku penghasilannya anjlok tajam sejak kebijakan diterapkan.

“Penurunan penghasilan sampai 70% ,” ujarnya.

Menurut dia, keberadaan bus pariwisata menjadi penopang utama perputaran ekonomi di Senopati. Tanpa kehadiran bus, jumlah pembeli turun drastis.

Keluhan serupa disampaikan Yanto (72), pedagang makanan dan oleh-oleh yang telah berjualan selama 16 tahun.

“Selama bus tidak parkir di sini, penghasilan nol besar. Benar-benar nol,” katanya.

Ia mengaku tetap harus memenuhi berbagai kebutuhan hidup di tengah minimnya pemasukan.

“Urusan bank (cicilan), urusan makan, sampai urusan sosial seperti nyumbang tetangga tetap jalan terus. Kami merasa serba salah,” imbuhnya.

Dia pun masih menimbang tawaran relokasi berjualan di Parkiran Ngabean yang menurutnya belum tentu bagus. Apalagi tempat jualan yang menurutnya sangat kecil.

Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyatakan kebijakan larangan bus parkir di Senopati merupakan bagian dari penataan lalu lintas jangka panjang di pusat kota.

“Harapan besar kami memang menata bus masuk kota. Saat ini bus sudah tidak di sana (Senopati), namun kami menyadari ada implikasi yang muncul, termasuk di kawasan Taman Pintar,” ujarnya.

Pemda, kata dia, terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Jogja untuk mencari solusi, termasuk kemungkinan penerapan sistem drop-off bagi wisatawan.

“Kita koordinasi terus, apakah memungkinkan sistem drop-off saja, kemudian nanti saat kepulangan dijemput lagi, atau seperti apa teknisnya,” jelasnya.

Ke depan, Parkiran Senopati akan difungsikan khusus untuk kendaraan pribadi. Sementara bus pariwisata diarahkan ke kantong parkir lain seperti Giwangan dan Ngabean. (*)