Malioboro Bebas Kendaraan 24 Jam, Pemkot Pelajari Dampak dan Kendala Lapangan

0
134
Ruas jalan Malioboro saat dilakukan uji coba bebas kendaraan bermotor selama 24 jam saat Ulang Tahun Kota Jogja. (zukhronnee muhammad)

Pemerintah Kota Jogja mulai mengevaluasi uji coba penerapan full pedestrian di kawasan Malioboro yang berlangsung 24 jam penuh pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-269 Kota Yogyakarta, Senin (7/10/2025).

Dalam uji coba ini, seluruh kendaraan bermotor dilarang melintas, kecuali bus Trans Jogja dan kendaraan logistik pada jam tertentu.

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, mengatakan uji coba ini menjadi bagian dari rencana penerapan Car Free Day Full yaitu kebijakan untuk menjadikan Malioboro sepenuhnya kawasan pejalan kaki.

“Kita ingin melihat dampaknya seperti apa kalau Malioboro benar-benar full pedestrian. Dari situ bisa diketahui persoalan akses warga, logistik, dan rekayasa lalu lintas yang perlu disiapkan,” ujarnya, Selasa (7/10/2025).

Menurut Hasto, evaluasi dilakukan sejak malam pertama hingga keesokan harinya untuk melihat dinamika di lapangan, termasuk titik-titik yang berpotensi menimbulkan kemacetan dan kebutuhan tambahan kantong parkir.

“Di Pasar Kembang mestinya tidak boleh ada parkir supaya lancar. Ke depan akan ada kantong parkir tambahan,” katanya.

Uji coba tersebut juga dibarengi dengan penataan kawasan Malioboro, termasuk penertiban pengamen. Sebanyak 116 pengamen resmi kini dimoratorium dan hanya boleh tampil di tujuh titik yang telah ditetapkan pemerintah.

“Tidak boleh ada pengamen keliling lagi. Sudah cukup seratus enam belas orang dari Tugu sampai Titik Nol,” tegas Hasto.

Ketujuh titik yang diperbolehkan berada di kawasan Pasar Beringharjo, depan eks Hotel Mutiara, Kepatihan, Plaza Malioboro, depan Perpustakaan, serta dua titik di depan wisma KAI dan Mangkubumi. Para pengamen akan dikurasi agar penampilan mereka lebih tertib dan berkualitas.

Hasto menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari upaya menjadikan Jogja sebagai kota yang bersih, tertib, dan disiplin.

“Kalau Yogyakarta mau jadi kota spesial, ya harus beda. Bukan hanya karena budayanya, tapi juga dari ketertibannya,” ujarnya. (*)