Seminggu Program Sekolah Rakyat terkendala adaptasi, infrastruktur, dan pendampingan

0
121
Suasana kelas Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19, Sonosewu Bantul Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah untuk anak-anak dari latar belakang rentan mulai menunjukkan sejumlah persoalan serius di minggu pertama pelaksanaannya. Antara lain anak-anak mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan asrama.

Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih, mengakui banyak anak belum mampu menyesuaikan diri dengan rutinitas asrama, mulai dari jadwal tidur hingga penggunaan fasilitas dasar.

“Di rumah, mereka bebas tidur larut malam. Sekarang harus masuk kamar jam sembilan malam dan bangun pukul setengah lima. Itu sulit bagi mereka,” ujarnya, Senin (21/7/2025).

Kendala juga muncul dari penggunaan fasilitas kamar mandi. Banyak anak tidak familiar dengan kloset duduk dan shower, bahkan menyebabkan kerusakan.

“Keran shower banyak yang jebol karena mereka terbiasa pakai bak atau timba di rumah,” ungkap Endang.

Meski sistem asrama berjalan, hanya 50 persen dari 275 siswa yang sudah mendapat wali asuh. Padahal, wali asuh berperan penting sebagai pengganti orang tua dalam mendampingi anak secara emosional.

Kekurangan ini membuat guru dan kepala sekolah terpaksa merangkap peran. Hingga kini, Pemda DIY masih menunggu kepastian dari Kemenpan-RB terkait pengangkatan wali asuh.

Dinsos juga mencatat persoalan kesehatan, termasuk anemia, kekurangan gizi, serta keberadaan anak dengan disabilitas fisik dan mental ringan. Satu anak sempat dicurigai TBC namun hasilnya negatif.

Meski bertujuan mulia, lemahnya kesiapan infrastruktur dan pendampingan memunculkan kekhawatiran atas efektivitas jangka panjang program ini.

Pemerintah dinilai perlu segera memperkuat sistem agar anak-anak tidak justru menjadi korban dari eksperimen kebijakan yang belum matang.(*)