
Bagi The Adams, Yogyakarta bukan lagi sekadar kota tujuan untuk manggung. Lebih dari 15 tahun menjelajahi panggung-panggung di Jogja membuat band power pop asal Jakarta ini memiliki ikatan emosional tersendiri dengan kota yang dikenal sebagai salah satu pusat aktivitas musik dan seni tersebut.
Kedekatan itu kembali terasa ketika The Adams tampil dalam gelaran Soundrenaline Yogyakarta 2026. Mereka membawakan beberapa lagu, di antaranya Masa-Masa dengan intro synthesizer, Pelantur, Waiting, Gelap Malam, Glorious Time, Hanya Kau, Timur, Konservatif, dan Halo Beni.
Soundrenaline “Sana Sini” Yogyakarta 2026 tidak hanya menghadirkan The Adams. Festival yang berlangsung di Ambarrukmo District, Sabtu (31/10/2026), tersebut juga menampilkan sejumlah musisi lintas genre, di antaranya The SIGIT, Efek Rumah Kaca, HIVI!, The Cottons, The Jeblogs, PORIS, Mpruy Koneksyen (Murphy Radio x Beijing Connection), dan Colorcode.
Sejumlah penampilan kolaboratif turut menjadi bagian dari festival, seperti Efek Rumah Kaca bersama Majelis Lidah Berduri, Avhath x Denisa, Barmy Blokes x Catzy, serta Yogyakarta Royal Orchestra dalam format ansambel brass bersama Adhitia Sofyan, Brian Prasetyohadi, dan Win Yovina Thopandi.
Festival ini juga menghadirkan White Chorus dalam format DJ set, serta Domapine, FM Abends, Gimme New Rhime, Lealona x Many West, Liburan Dirumah, Jo Soegono x Adhitia Sofyan, dan Pertunjukan x The SIGIT. Rangkaian pertunjukan tersebar di empat area, yakni The Kasultanan Ballroom, Alun-Alun Ambarrukmo, Pendopo Ambarrukmo, dan Taman Belakang Royal Ambarrukmo.
Sebelum naik panggung, Ario Hendarwan (vokal/gitar), Saleh Husein alias Ale (vokal/gitar), dan Gigih Suryo Prayogo (drum) berbagi cerita mengenai hubungan mereka dengan Jogja, perkembangan ekosistem musik, hingga pentingnya menjaga kebebasan berekspresi.
Ale mengungkapkan, setiap kali datang ke Jogja, suasananya tidak lagi terasa seperti sedang melakukan perjalanan ke luar kota. Ada kedekatan yang membuat kunjungan mereka seperti bertemu sahabat lama.
Hubungan tersebut terbangun melalui perjalanan panjang, mulai dari menjelajahi panggung-panggung kampus hingga menjalin kolaborasi erat dengan komunitas seniman seni rupa setempat.
Intensitas penampilan The Adams di Jogja bahkan tergolong tinggi. Pada bulan sebelumnya, mereka tercatat tampil tiga hingga empat kali di berbagai titik kota dalam kurun satu bulan.
“Udah kayak main ke Tangerang Selatan,” seloroh Ale.
Namun, di balik kedekatan dan tingginya antusiasme penonton, The Adams melihat masih ada pekerjaan rumah dalam perkembangan ekosistem musik Jogja. Salah satunya menyangkut keterbatasan ruang pertunjukan, terutama untuk mengakomodasi acara berskala besar (mass scale).
“Jogja itu seru dan selalu bisa menampung antusiasme penonton, tapi memang Jogja ada kekurangan di situ (ruang/venue pertunjukan skala besar),” kata Ario.
Catatan tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan antara besarnya antusiasme terhadap pertunjukan musik dan ketersediaan infrastruktur yang mampu menampungnya. Bagi kota dengan aktivitas musik yang tinggi, keberadaan ruang pertunjukan menjadi salah satu unsur penting untuk menjaga keberlanjutan ekosistem tersebut.
Soundrenaline sebagai Ruang Ekspresi Musisi
Bagi The Adams, keberadaan festival seperti Soundrenaline memiliki arti penting bagi perkembangan ekosistem musik. Festival menjadi ruang pertemuan langsung antara karya musisi dan pendengar, sekaligus menghadirkan energi baru dalam setiap penampilan.
Mereka berharap Soundrenaline dapat terus berlangsung dan memperluas pergerakannya di berbagai kota, seperti Yogyakarta, Jakarta, Bandung, hingga Palembang.
Namun, keberlanjutan festival bukan satu-satunya hal yang mereka harapkan. Ruang kebebasan berekspresi bagi para musisi juga harus tetap dijaga.
“Harapan paling penting, semoga Soundrenaline tidak membatasi kebebasan berekspresi para musisi. Itu yang paling utama,” tegas Ario. (*)













