Bu Tejo dan Frau Suarakan Krisis Karhutla, Aksi Pukul Panci Bergema di Titik Nol

0
6
Aksi Suara Ibu Indonesia di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. (Zukhronnee muhammad)

Krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar persoalan lingkungan. Asap kebakaran juga mengancam kesehatan dan kehidupan masyarakat. Suara Ibu Yogyakarta menyuarakan persoalan tersebut melalui aksi bertajuk Asap Bukan Takdir di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Jumat (30/10/2026).

Aksi ini mendapat respons dari pengguna jalan. Sejumlah wisatawan dan pengendara yang berhenti di lampu merah perempatan Titik Nol Kilometer turut membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan terhadap massa aksi.

Suasana semakin hidup ketika musisi Leilani Hermiasih atau Frau ikut menciptakan lagu untuk aksi tersebut. Ia kemudian bernyanyi bersama ibu-ibu peserta aksi sembari memukul-mukul panci dalam aksi simbolis “Pukul Pancimu”.

Dalam aksi itu, Suara Ibu Yogyakarta menyampaikan empat tuntutan kepada pemerintah. Mulai dari penanganan bencana secara profesional, perubahan prioritas anggaran negara, penghentian intimidasi terhadap masyarakat, hingga jaminan kebebasan berekspresi.

Juru bicara aksi, Siti Fauziah atau Bu Tejo, menegaskan karhutla merupakan krisis ekologis sekaligus ancaman kesehatan publik yang membutuhkan penanganan serius.

“Kami menuntut pemerintah bekerja selayaknya pengelola negara yang andal. Tangani bencana dengan profesional, serius, cepat, dan tepat!” ujarnya.

Mereka juga meminta anggaran negara diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, seperti udara bersih, kesehatan, pendidikan, dan stabilitas harga kebutuhan pokok.

Selain itu, massa mendesak penghentian intimidasi dan praktik yang memicu benturan antarwarga, serta menjamin kebebasan berpendapat, termasuk di media sosial.

Ozy panggilan akrab Siti Fauziah turut menyoroti beban ekonomi perempuan, terutama kebijakan pajak terhadap kebutuhan dasar seperti pembalut.

“Kalau barang mewah dipajaki tidak apa-apa, tapi kalau kebutuhan dasar perempuan seperti pembalut dipajaki, itu kan kebutuhan dasar. Jangan sampai untuk mengakses kebutuhan dasar wae dipajeki. Ora ngerti prioritas,” ungkapnya.

Aksi dikemas secara partisipatif melalui live painting, karaoke, hingga aksi simbolis memukul panci. Kegiatan ini melibatkan komunitas pecinta alam Sasenitala, ISI Bergerak, serta alumni berbagai kampus di Yogyakarta.

Melalui aksi ini, Suara Ibu Yogyakarta berharap pemerintah tidak berhenti pada pernyataan, tetapi menghadirkan langkah nyata untuk melindungi lingkungan, kesehatan, dan hak masyarakat. (*)