
Auditorium IFI-LIP Yogyakarta menjadi saksi transformasi Rumah Pantomim Yogyakarta menjadi yayasan berbadan hukum. Perubahan status ini dikukuhkan bersamaan dengan Parade Pertunjukan Pantomim ‘Sowan’ 2026 yang menampilkan 15 seniman lintas generasi, menandai babak baru seni gerak pasca era Maestro Jemek Supardi.
M Dinu Imansyah, pemerhati seni yang hadir, menyebut pertunjukan ini sebagai antitesis era digital yang bising.
“Di zaman ketika semua orang mengakses internet dengan begitu riuh dan cerewet kita justru butuh pantomim. Teman-teman menunjukkan cara memberikan kritik dan menyuarakan rasa melalui gerak, bukan sekadar omon-omon,” ujarnya seusai pertunjukan pada Sabtu (31/1/2026),
Ia mengapresiasi Rumah Pantomim yang memecah ‘kekeringan’ pertunjukan seni Yogyakarta beberapa bulan terakhir dengan karya variatif dan kritis.
Andy SW mencuri perhatian dengan lakon ‘Berburu Keadilan’. Ia memulai dari kursi penonton dengan gumaman absurd, lalu merangkak di panggung layaknya hewan peliharaan — satire getir tentang oportunisme dalam mengejar keadilan.
Bagi anak-anak di baris depan, Andy adalah sirkus kegembiraan. Kritik sosial disampaikan dengan cara yang menghibur.
Kinanti Sekar Rahina, putri mendiang Jemek Supardi, tampil dengan baju bergaris hitam putih, jas hujan putih, dan payung hitam. Tanpa air sungguhan, gerak tubuhnya — dari sentakan jari menyentuh rintik imajiner hingga lompatan menghindari genangan — berhasil meyakinkan penonton akan kehadiran hujan. Penampilannya menjadi simbol ‘sowan’ atau penghormatan kepada sejarah dan doa bagi masa depan yayasan.
Catatan Kritis dan Keberagaman
Seniman senior Jujuk Prabowo mengapresiasi komposisi yang matang namun menekankan pentingnya kelenturan tubuh.
“Tolong lebih banyak belajar kelenturan tubuh. Bukan sekedar bisa menari atau akrobatik, tapi kelenturan untuk mewadahi ‘keliaran’ imajinasi. Kebebasan mengekspresikan gerak harus tetap menemukan keindahan-keindahannya agar tidak mandek,” tegas Jujuk.
Parade ini menampilkan keberagaman gaya dari 15 seniman: Doddy Micro, Yuristavia, Dinda Afrillia, Arief Wicaksono, Jamaluddin Latif, Enderiza, Aldo Adriansyah, Ghani FM, Wawan Bob, Y. Krismantono, Kinanti Sekar, Tiaswening Maharsi, Andy SW, Asita Kaladewa, dan Broto Wijayanto.
Aktor kawakan tampil dengan kematangan teknik, sementara seniman perempuan membuktikan pantomim bukan dominasi maskulin.
Broto Wijayanto, perwakilan yayasan, menegaskan komitmen mereka.
“Acara kedinasan mungkin tidak melirik kami, tapi kami akan tetap berproses. Ini adalah pembuktian bahwa murid-murid Pak Jemek masih ada, masih bersama, dan akan melanjutkan cita-cita beliau,” ujar Broto.
Transformasi menjadi yayasan diharapkan menjadi payung lebih kokoh bagi regenerasi, pengarsipan, dan ekosistem seni gerak di masa depan. (*)













