
Libur panjang Tahun Baru Imlek 2026 tidak hanya meninggalkan kesan melalui meriahnya lampion, tetapi juga menjadi saksi bisu betapa tingginya antusiasme masyarakat Yogyakarta untuk beralih ke transportasi publik.
Saat potensi kemacetan jalan raya menuju Kulon Progo, sebanyak 47.182 penumpang memilih jalur rel sebagai cara paling cerdas untuk mengejar jadwal penerbangan di Yogyakarta International Airport (YIA).
Bagi para pelancong, kereta bandara kini bukan sekadar opsi cadangan, melainkan gaya hidup baru dalam bepergian.
Perjalanan menuju bandara selama periode libur kemarin terasa berbeda dari biasanya. Begitu menapakkan kaki di stasiun, penumpang disambut dengan hangatnya suasana Imlek. Ornamen khas berwarna merah menyala dan petugas garis depan (frontliner) yang mengenakan busana bernuansa perayaan memberikan sentuhan personal yang humanis di tengah hiruk-pikuk jadwal penerbangan.
Direktur Utama PT Railink, Porwanto Handry Nugroho, dalam keterangannya pada Kamis (19/2/2026), mengungkapkan bahwa momentum ini adalah indikator penting bagi kemajuan transportasi massal.
“Peningkatan jumlah penumpang ini mencerminkan kebutuhan masyarakat akan moda transportasi yang andal, tepat waktu, dan terhubung langsung dengan bandara,” tuturnya.
Dari total puluhan ribu penumpang yang tercatat, pilihan masyarakat terbagi dalam dua layanan utama:
KA Bandara YIA PSO: Menjadi primadona dengan total 30.709 penumpang.
KA Bandara YIA Xpress: Dipilih oleh 16.473 penumpang yang menginginkan kecepatan ekstra dan kenyamanan premium.
Tingginya angka ini menegaskan bahwa sejak diberikan penugasan oleh PT Kereta Api Indonesia pada April 2022, Railink sukses mereplikasi kesuksesan layanan mereka yang sebelumnya telah eksis di Medan dan Jakarta ke tanah Jawa.
Lebih dari Sekadar Transportasi
Railink tidak ingin berhenti hanya sebagai pengantar penumpang. Ke depan, visi besar telah disiapkan untuk memperkuat integrasi antarmoda di Yogyakarta. Rencana konektivitas dengan jaringan kereta jarak jauh serta transportasi darat lainnya terus dimatangkan.
Upaya ini bukan tanpa alasan. Dengan menjadikan kereta bandara sebagai tulang punggung mobilitas, sektor pariwisata Yogyakarta diharapkan terus meroket, yang pada akhirnya akan memutar roda ekonomi daerah dengan lebih kencang.
Bagi para wisatawan, perjalanan liburan kini dimulai sejak di dalam kereta, bukan lagi saat mendarat di bandara. (*)
















