Purbasari Hidupkan Kembali Ritual Cantik ala Keraton Lewat Lulur Mandi Teh

0
9
Peluncuran produk Lulur Mandi Teh Keraton Purbasari yang dikemas dalam acara bertajuk A Touch of Royal Beauty di Candi Tirto Raharjo, Bantul, Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

Di tengah rutinitas yang serba cepat, meluangkan waktu untuk merawat diri sering kali menjadi kemewahan. Namun, di Candi Tirto Raharjo, Kasihan, Bantul, Rabu (15/7), sekelompok perempuan justru diajak memperlambat langkah. Mereka meracik teh, mencampur lulur, menikmati pijatan relaksasi, lalu membiarkan aroma melati memenuhi udara seolah mengulang tradisi perawatan diri yang dahulu akrab di lingkungan keraton.

Suasana itulah yang dihadirkan Purbasari melalui acara “A Touch of Royal Beauty”, sekaligus memperkenalkan produk terbarunya, Purbasari Lulur Mandi Teh Keraton.

Bukan sekadar peluncuran produk, acara ini mengajak para tamu memahami bahwa ritual mandi dan merawat tubuh pernah menjadi bagian dari filosofi hidup masyarakat Nusantara. Tradisi meracik teh, menggunakan bahan-bahan alami, hingga meluangkan waktu untuk merawat diri menjadi warisan budaya yang kini diterjemahkan kembali dalam bentuk yang lebih praktis.

Brand Executive Purbasari, Carrensca Wahyudi, mengatakan Purbasari ingin menjaga kekayaan budaya Indonesia tetap hidup melalui inovasi produk kecantikan.

“Kami ingin melestarikan budaya. Sebagai brand lokal, sudah sepatutnya kami mengembangkan kekayaan tradisi kecantikan Indonesia. Estetika dan kecantikan keraton masih sangat relevan hingga sekarang, sehingga kami mengombinasikan kandungan body care yang modern dengan sentuhan tradisional khas Indonesia,” ujarnya saat ditemui di sela acara.

Inspirasi tersebut kemudian diwujudkan melalui perpaduan ekstrak chamomile untuk menenangkan kulit, green tea extract yang kaya antioksidan, jasmine oil yang membantu menjaga kelembapan sekaligus memberikan aroma relaksasi, serta niacinamide untuk membantu mencerahkan kulit. Butiran lulurnya dibuat lembut sehingga dapat digunakan setiap hari sebagai pengganti sabun mandi.

Menurut Carrensca, manfaat produk dapat langsung dirasakan sejak pemakaian pertama.

“Kulit langsung terasa lebih halus, wangi, dan rileks. Sementara kulit yang tampak lebih cerah mulai terlihat setelah pemakaian rutin sekitar tujuh hingga 14 hari,” katanya.

Pengalaman meracik lulur sendiri menjadi momen yang paling membekas bagi Rima Suwarjono, salah satu peserta acara. Ia mengaku baru pertama kali mencoba membuat lulur secara mandiri.

“Ini benar-benar pengalaman baru buat saya. Setelah dipakai, kulit langsung terasa lebih halus, lembut, dan lembap. Menurut saya, perpaduan lulur dan minyak zaitunnya pas sekali untuk kulit perempuan Indonesia,” ungkapnya.

Rima juga menilai konsep tersebut menawarkan alternatif perawatan tubuh yang praktis.

“Sekarang kita jadi tahu kalau perawatan seperti ini bisa dilakukan sendiri di rumah tanpa harus ke spa. Cocok untuk yang punya waktu terbatas, tetapi tetap ingin menikmati momen merawat diri,” ujarnya.

Baginya, nuansa keraton terasa kuat sepanjang acara, mulai dari lokasi, aktivitas yang dilakukan, hingga karakter produk yang diperkenalkan.

“Saya suka sekali konsep yang mengangkat budaya Nusantara. Warna kemasan, desain produk, sampai aromanya benar-benar terasa khas Indonesia. Saya membayangkan perempuan keraton dulu merawat diri dengan bahan-bahan alami, dan ternyata tradisi itu masih bisa diterapkan sampai sekarang,” katanya.

Melalui peluncuran Purbasari Lulur Mandi Teh Keraton, perusahaan berharap ritual merawat diri tidak lagi dipandang sebagai kemewahan, melainkan menjadi kebiasaan sederhana yang sarat makna. Sebab, di balik sejumput teh, harum melati, dan butiran lulur, tersimpan warisan budaya yang tetap relevan untuk menemani perempuan Indonesia di masa kini. (*)