Merayakan Wajah Baru Sinema Nusantara dari Pantai Pancer Dorr Pacitan

0
75
Keseruan Festival Film Horor di Pantai Pancer Dorr, Pacitan. (istimewa)

Angin laut Selatan bertiup kencang, menyapu wajah-wajah yang menanti penuh antisipasi. Semburat kemerahan senja kala perlahan memudar, berganti dengan temaram lampu yang sengaja dibuat redup.

Di Pantai Pancer Dorr, Pacitan, suasana yang biasanya romantis seketika berubah menjadi panggung misteri yang hening. Deretan kursi yang ditata rapat mengingatkan pada nostalgia bioskop layar tancap di masa lampau, seolah mempersiapkan ribuan pasang mata untuk sebuah peristiwa bersejarah.

Malam itu, Jumat, 12 Desember 2025, Pacitan mencatatkan diri dalam peta sinema nasional. Komunitas Ruang Film Pacitan yang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Pacitan resmi menggelar Festival Film Horor (FFH) 2025—festival film horor pertama di Indonesia.

Paduan Mistis dan Nostalgia

Gelaran ini bukan sekadar pemutaran film biasa. Sejak sore, alunan musik dari Keroncong Sinoman dan Keroncong Harmoni telah menyambut para tamu, menghadirkan nuansa nostalgia di tengah lanskap laut yang luas. Namun, ketika jarum jam menunjuk pukul 19.30 WIB, suasana berubah dramatis.

Arak-arakan pembukaan dimulai dengan pemandangan yang tak biasa. Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayu Aji, bersama jajaran pemerintah daerah dan para sineas, berjalan beriringan dikawal oleh penari rontek dari Sanggar Pradapa Lokabakti. Para penari ini tidak tampil biasa; mereka mengenakan kostum hantu-hantu lokal, menyatu dengan narasi festival yang diusung.

Puncak seremoni malam itu ditandai dengan penyalaan api petromaks oleh Bupati Pacitan di tengah panggung yang sengaja diredupkan. Cahaya api yang meliuk ditiup angin laut menambah kesan sakral sekaligus mencekam, menegaskan dimulainya pesta sinema ini.

Hadirnya Para Maestro dan Akademisi

FFH 2025 yang diinisiasi oleh sutradara kawakan Garin Nugroho ini sukses menyedot perhatian lebih dari 1.000 pengunjung. Antusiasme ini beralasan, mengingat festival ini berhasil menyerap 285 film horor dari sineas di seluruh Indonesia.

Deretan kursi tamu dipenuhi oleh tokoh-tokoh penting dari berbagai latar belakang. Dari kalangan pelaku industri, hadir nama-nama besar seperti Siti Fauziah (pemeran Bu Tejo dalam Tilik), Dennis Adhiswara, serta sutradara BW Purbanegara dan Hestu Saputra.

Tak hanya praktisi, festival ini juga menjadi ruang diskusi intelektual dengan hadirnya para akademisi dan kritikus film. Tampak hadir Ekky Imanjaya (Binus), Erina Adeline (IKJ), Novi Kurnia (UGM), Putri Nugrahaning dan Ardi Chandra (ISI Solo), serta Pius Rino (ISI Jogja).

Inisiator dan penasihat festival, Ong Hari Wahyu, juga turut hadir mendampingi jalannya acara yang didukung oleh kolaborator seperti Akhmad Yani (JAFF Community Forum) dan Setawijaya (Omah Jayeng & Garin Art Lab).

Tokoh lokal pun turut ambil bagian, termasuk Efi Suraningsih, Kepala PKK Pacitan yang bertindak sebagai dewan juri kategori film eksibisi.

Horor Sebagai Refleksi Budaya

Dalam sambutan pembukaannya, Direktur Festival FFH 2025, Idham Nugrahadi, menekankan pentingnya acara ini. Hal senada disampaikan Garin Nugroho keterangan tertulisnya pada Senin (15/12/2025). Garin menyoroti bahwa film horor di Indonesia bukan sekadar komoditas hiburan yang kini menguasai 70% pasar perfilman nasional.

“Festival Film Horor bukanlah sekedar festival tentang film. Film horor merefleksikan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dari masalah adat istiadat, folklor, legenda, religi—bahkan juga cara berpikir, bergaya hidup, dan bertindak dari masyarakat Indonesia,” tutur Garin.

Pesan ini terejawantahkan dalam pemutaran film undangan bertajuk “Pelabuhan Berkabut” produksi Kura Kura Film. Film berdurasi 17 menit ini tidak hanya menyajikan “senam jantung” lewat adegan menyeramkan, tetapi juga menyisipkan kritik tajam soal isu stunting, krisis ekologi, dan ketahanan pangan.

Diskusi pasca-pemutaran bersama Saka Guna Wijaya, perwakilan Kura Kura Film sekaligus putra daerah Pacitan, semakin mempertegas posisi film horor sebagai media kritik sosial.

Membangun Ekosistem Sejak Dini

Semangat FFH 2025 tidak hanya berhenti di bibir pantai. Sebelumnya, pada siang hari, semangat yang sama telah dinyalakan di SMKN 1 Pacitan melalui “Workshop Keaktoran Film Horor”. Dipandu oleh aktor senior Whani Darmawan dan Pritt Timothy, kegiatan ini menjadi bukti komitmen festival dalam menjaring dan mengembangkan talenta muda daerah.

FFH 2025 telah menjadi momentum penting. Dari pesisir selatan Jawa, sebuah ruang baru bagi sinema Nusantara telah terbuka—ruang untuk tumbuh, berani, dan berakar kuat pada cerita kultur lokal.

“Perayaan film horor di Pacitan adalah perayaan untuk kita semua, perayaan untuk kita bisa mengerti bagaimana cara hidup, gaya hidup, bereaksi, dan bertindak masyarakat kita dalam berbagai aspek dalam kehidupan berbangsa ini,” pungkas Garin Nugroho.(*)