Korban Bullying di SMK YPKK Tepus Pernah Berhenti Sekolah Setahun, Kini Diperkuat SIKOMHATI.ID

0
3
Implementasi SIKOMHATI.ID di SMK YPKK Tepus, Gunungkidul, menjadi bagian dari upaya membangun budaya komunikasi yang aman, nyaman, dan berempati sekaligus mencegah bullying dan cyberbullying di lingkungan sekolah. (istimewa)

Pengalaman menangani siswa korban bullying mendorong SMK YPKK Tepus, Gunungkidul, memperkuat budaya komunikasi aman dan nyaman di lingkungan sekolah. Salah satu siswa yang pernah menjadi korban bahkan sempat berhenti sekolah selama sekitar satu tahun sebelum akhirnya kembali belajar hingga lulus dan melanjutkan kuliah.

“Literasi itu kunci,” ujar Kepala SMK YPKK Tepus, Dr. Sukiter, M.Pd., dalam implementasi SIKOMHATI di SMK YPKK Tepus, Gunungkidul, Selasa (1/9/2026).

Menurut Sukiter, pihak sekolah pernah menangani sejumlah siswa yang menjadi korban bullying, baik yang berasal dari sekolah menengah maupun siswa pindahan dari sekolah lain. Salah satunya sempat berhenti sekolah sekitar satu tahun setelah mengalami bullying.

Pihak sekolah kemudian mencari keberadaan siswa tersebut hingga ke rumah, berkomunikasi dengan orang tua, dan membujuknya kembali melanjutkan pendidikan. Setelah bersekolah di SMK YPKK Tepus, siswa itu berhasil lulus dan melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka.

Ada pula siswa yang tidak nyaman bertemu banyak orang setelah mengalami bullying. Agar tetap dapat belajar, siswa tersebut datang ke sekolah setelah siswa lain pulang dan mendapatkan pembelajaran secara privat. Ketika tidak datang ke sekolah, guru mendatangi rumahnya untuk memberikan pembelajaran.

Menurut Sukiter, pengalaman bullying yang dibawa siswa dari sekolah sebelumnya tidak selalu terlihat secara langsung. Dalam beberapa kasus, sekolah baru mengetahui pengalaman tersebut melalui komunikasi dengan siswa maupun orang tua.

Pengalaman serupa juga dirasakan Lia, siswi kelas 10 Tata Busana. Sebelum mengikuti kegiatan SIKOMHATI, ia mengaku belum memahami apa yang dimaksud dengan bullying dan cyberbullying.

Lia pernah mengalami bullying ketika SMP karena kondisi fisiknya dianggap berbeda. Ia sempat diejek dan dijauhi teman-temannya hingga muncul keinginan untuk tidak melanjutkan sekolah. Pihak SMK YPKK Tepus kemudian datang ke rumah dan membujuknya agar kembali melanjutkan pendidikan.

Setelah mengikuti kegiatan SIKOMHATI, Lia mengaku lebih memahami bentuk bullying dan cyberbullying. Ia juga menilai SIKOMHATI.ID mudah digunakan.

Menurut Lia, salah satu fitur yang menarik adalah konseling anonim karena tidak semua siswa merasa nyaman menceritakan persoalannya secara langsung. Fitur tersebut dinilai dapat menjadi pilihan awal bagi siswa yang masih kesulitan membuka diri.

Pengalaman bullying juga pernah dialami Furi, siswi kelas 10 Tata Busana. Saat SMP, ia mendapat komentar dan ejekan dari teman-temannya terkait pakaian yang dikenakannya.

Pengalaman para siswa tersebut menjadi salah satu konteks implementasi SIKOMHATI.ID di SMK YPKK Tepus. Program ini merupakan prototipe berbasis digital yang diciptakan Prof. Dr. Puji Lestari, S.IP., M.Si., dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta sekaligus penggagas Teori Komunikasi Hati.

SIKOMHATI mendorong siswa memahami bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan mengelola pikiran dan perasaan serta mempertimbangkan dampak komunikasi terhadap orang lain.

Program tersebut merupakan bagian dari kolaborasi penelitian UPN “Veteran” Yogyakarta, Balai Tekkomdik Daerah Istimewa Yogyakarta, dan SMK YPKK Tepus. Implementasi ini menjadi bagian dari penelitian terapan dengan luaran prototipe SIKOMHATI.ID yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek Tahun 2026.

Dalam Teori Komunikasi Hati terdapat empat unsur utama, yakni olah pikir, olah rasa, empati, dan kedamaian hati. Olah pikir mengajak seseorang tidak terburu-buru bereaksi dan melihat persoalan secara lebih positif. Olah rasa berkaitan dengan kemampuan mengenali dan mengelola emosi.

Sementara itu, empati mendorong seseorang memahami sudut pandang orang lain. Kedamaian hati menjadi kondisi yang diharapkan terbentuk setelah seseorang mampu mengelola pikiran, perasaan, dan hubungan sosialnya.

Konsep tersebut juga mengajak siswa mengenali dan mengelola “sampah hati”, seperti iri, benci, dendam, dan ego, untuk diubah menjadi energi positif serta semangat berbuat lebih baik.

“Balaslah iri, benci, dan dendam dengan kebaikan, maka kebaikan lainnya justru akan menghampiri Anda,” demikian pesan dalam pendekatan Komunikasi Hati tersebut.

Dengan pendekatan itu, pencegahan bullying tidak hanya diarahkan kepada siswa yang berpotensi menjadi korban, tetapi kepada seluruh siswa agar mampu mengelola diri dan mempertimbangkan perasaan orang lain sebelum bertindak maupun berkomentar.

Implementasi SIKOMHATI di SMK YPKK Tepus diawali pre-test untuk mengetahui pengetahuan awal siswa mengenai Komunikasi Hati, bullying, dan cyberbullying. Siswa didampingi Erick Syafriatna, S.Kom., dari Balai Tekkomdik DIY untuk mengakses sistem dan mengikuti tahapan awal implementasi.

Kendala sinyal sempat muncul sehingga pelaksanaan pre-test dipindahkan ke perpustakaan dengan menggunakan koneksi yang telah disiapkan untuk mendukung kegiatan.

Setelah pre-test, kegiatan dilanjutkan dengan pengarahan kepada guru BK dan wali kelas mengenai pelaksanaan literasi, didampingi Erick dan Puji Lestari. Sementara itu, siswa mendapatkan materi mengenai bullying dan cyberbullying dari Dani Fadillah, S.I.Kom., M.A., Ph.D., dosen Universitas Ahmad Dahlan yang menjadi bagian dari tim penelitian Prof. Puji.

Siswa selanjutnya mengikuti pendampingan literasi berkelanjutan melalui SIKOMHATI.ID.

Sukiter menilai penguatan literasi melalui SIKOMHATI dapat melengkapi kegiatan literasi yang selama ini telah berjalan di sekolah. SMK YPKK Tepus selama ini melaksanakan literasi pagi menggunakan buku fisik dan sesekali e-book.

Menurutnya, literasi mengenai bullying dan cyberbullying penting agar siswa tidak hanya mengetahui bentuk tindakannya, tetapi juga memahami dampaknya bagi korban maupun pelaku. Dengan pemahaman tersebut, siswa diharapkan lebih berhati-hati dalam berinteraksi, baik secara langsung maupun melalui ruang digital.

Budaya komunikasi juga dibangun di antara para guru. Setiap akhir bulan, sekolah mengadakan rapat koordinasi dan evaluasi sebagai ruang bagi guru menyampaikan kendala, baik persoalan pribadi maupun masalah siswa yang mereka dampingi.

Sukiter yang juga menjabat Ketua Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) Gunungkidul melihat SIKOMHATI berpeluang dikenalkan lebih luas kepada guru BK di sekolah lain.

Forum MGBK dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan pendekatan Komunikasi Hati kepada guru BK di seluruh Kabupaten Gunungkidul sekaligus mendiskusikan kemungkinan pemanfaatan fitur konseling melalui SIKOMHATI.ID untuk mendukung pendampingan siswa.

Bagi SMK YPKK Tepus, pengalaman menerima siswa yang pernah menjadi korban bullying menjadi bagian dari proses membangun sekolah sebagai ruang yang mau mendengar dan membantu siswa kembali melanjutkan pendidikan.

Melalui kolaborasi UPN “Veteran” Yogyakarta, Balai Tekkomdik DIY, dan SMK YPKK Tepus, SIKOMHATI.ID diharapkan memperkuat budaya komunikasi aman dan nyaman di lingkungan sekolah.

Pendekatan Komunikasi Hati mengajak siswa mengolah pikiran ke arah positif, mengelola “sampah hati” seperti iri, benci, dan dendam menjadi energi positif, membangun empati, serta menciptakan kedamaian hati dalam berkomunikasi.

Upaya membangun lingkungan sekolah yang aman dan nyaman tidak hanya dilakukan ketika kasus bullying terjadi. Pencegahan juga perlu dimulai dari kebiasaan berkomunikasi, kemampuan memahami orang lain, serta kepedulian menjaga hubungan dengan sesama.

Ketika jempol bergerak di ruang digital, hati diharapkan tidak tertinggal. Kecakapan digital perlu berjalan beriringan dengan empati dan kepedulian agar tercipta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 dan Keputusan Mendikdasmen Nomor 17 Tahun 2026 sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan, perundungan (bullying), dan diskriminasi. (*)