Kangen Simbah, Dua Siswa Sekolah Rakyat Memilih Pulang

0
145
Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19, Sonosewu Bantul. (dok jogjainfo)

Mengaku rindu dengan kakek dan nenek di rumah, dua siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Sonosewu, Bantul memilih mundur dari kegiatan belajar setelah sebulan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DIY, Endang Patmintarsih, mengatakan keputusan itu bukan karena pelanggaran atau masalah kedisiplinan, melainkan murni alasan emosional.

“Ada dua anak mundur, posisinya sekarang karena kangen simbahnya,” ujar Endang, Senin (4/8/2025).

Kedua siswa tersebut tidak kabur tanpa jejak. Mereka pamit kepada pendamping, dan saat ini keberadaannya sudah dipastikan di rumah masing-masing oleh petugas dinas.

Endang menjelaskan, pihaknya telah berupaya membujuk agar keduanya kembali ke asrama dan melanjutkan pendidikan. Namun jika keputusan mereka tetap bulat, posisi akan digantikan anak lain yang masih menunggu kesempatan bersekolah di SR.

“Kalau memang sudah tidak mau kembali, ya kami tidak bisa memaksa. Tapi kami tetap dorong jangan sampai mereka putus sekolah,” ujarnya.

Menurutnya, adaptasi di lingkungan SR memang tidak mudah, apalagi bagi anak-anak yang baru pertama kali tinggal terpisah dari keluarga. 

Sekolah Rakyat menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk mendapat pendidikan dan pengasuhan dengan pendekatan karakter di lingkungan asrama.

Saat ini, SR Sonosewu menampung lebih dari 200 anak, sedangkan SR di Sleman menampung 75 siswa. Sebagian besar anak mulai menyesuaikan diri dan menikmati ritme kehidupan yang penuh kedisiplinan dan nilai kemandirian.

“Awal-awal memang ada yang kaget, tapi sekarang sebagian besar sudah nyaman. Bahkan banyak yang sudah rajin puasa Senin-Kamis,” jelas Endang.

Ia menegaskan bahwa misi utama Sekolah Rakyat bukan hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi memastikan anak-anak rentan tetap mendapat akses pendidikan dan tumbuh dengan karakter yang kuat.(*)