Jembatan Kewek Warisan Kolonial Terancam Roboh, Kekuatan Struktur Tinggal 20 Persen

0
154
Jembatan Kewek atau Jembatan Kleringan ini menghubungkan kawasan Kotabaru dan Malioboro. (zukhronnee muhammad)

Jembatan Kleringan atau Jembatan Kewek, saksi bisu perjalanan Kota Yogyakarta sejak era kolonial Belanda, kini terancam kehilangan kekuatan strukturnya.

Jembatan bersejarah yang dibangun Nederlands-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS) pada 1920-an dan rampung tahun 1928 itu dinyatakan dalam kondisi kritis.

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengungkapkan, jembatan yang telah berusia lebih dari 100 tahun itu hanya memiliki kekuatan 10-20 persen dari kapasitas awalnya.

“Jembatan Kewek itu sudah tua, kira-kira kekuatannya sekarang tinggal 10 sampai 20 persen saja, sehingga berbahaya,” kata Hasto di Balai Kota Jogja, Rabu (19/11/2025).

Pemkot Yogyakarta kini berpacu dengan waktu menyelamatkan bangunan cagar budaya tersebut. Hasto menyebut, pembangunan ulang jembatan membutuhkan anggaran Rp 12 miliar yang tengah diupayakan dari APBN dan provinsi.

Sebagai langkah darurat, Pemkot melarang bus dan truk melintasi jembatan yang menjadi jalur sibuk menuju Malioboro itu. Garis biku-biku telah dipasang melarang kendaraan berhenti di atas jembatan.

“Kita harus merawat Jembatan Kleringan. Rencana diganti total, tapi tidak merusak yang bersifat cagar budaya,” ujar Hasto.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPKP Kota Jogja Umi Akhsanti menegaskan tingkat kerusakan jembatan warisan kolonial yang menghubungkan kawasan elit Eropa (Kotabaru) dan pusat ekonomi (Malioboro) itu sudah mencapai titik kritis.

“Memang kondisinya sudah kritis secara teknis karena usianya sudah 100 tahun lebih. Sebenarnya sudah tidak renovasi lagi, tapi dibangun ulang,” jelasnya.

Detail Engineering Design sudah rampung disusun. Jika anggaran cair, pembangunan dapat dimulai tahun depan dengan estimasi enam bulan pengerjaan. (*)