Jejak Rahasia di Kotabaru Jogja, Menelusuri “Titik Nol” Persandian RI yang Mendunia

0
21
Para peserta memulai trip menelusuri Jejak Intelijen di Kotabaru dalam memperingati rangkaian perayaan Hari Bakti Persandian ke-80. (zukhronnee muhammad)

Kawasan Kotabaru di Yogyakarta bukan sekadar deretan bangunan kolonial yang estetik. Di balik tembok-tembok tuanya, tersimpan sejarah besar tentang bagaimana Republik Indonesia menjaga rahasianya di masa genting.

Menutup rangkaian perayaan Hari Bakti Persandian ke-80, sebuah tur sejarah bertajuk “Jejak Intelijen di Kotabaru” membawa kita kembali ke tahun 1946.

Hari Edi Tri Wahyu Nugroho, S.IP., M.SI, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika DIY sekaligus Ketua Forum Komunikasi Siber dan Sandi DIY, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai sarana “estafet pemahaman.”

“Dulu di sini ada banyak spot sejarah persandian. Harapan kami, Museum Sandi menjadi tujuan kunjungan bagi generasi muda agar mereka tahu dan bangga akan warisan ini,” ujar Hari Edi saat ditemui di sela kegiatan panda Selasa (7/4/2026) di Museum Sandi, Yogyakarta.

Ia juga menekankan bahwa penguasaan teknologi keamanan, baik yang modern maupun tradisional, sangat krusial di masa depan.

Tur ini diikuti oleh berbagai instansi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Siber dan Sandi DIY, mulai dari Diskominfo tingkat provinsi dan kabupaten/kota, Korem, Kodim, Polda DIY, Polresta, hingga Lanud Adisutjipto, Binda DIY, AAU, Satuan Radar Congot, dan Kejaksaan.

Menyusuri 5 Titik “Saraf” Informasi

Rute tur ini dirancang secara spesifik untuk menyisir jejak-jejak kantor persandian kurun waktu 1946-1948.

Setyo Budi Prabowo, S.ST, Kepala Museum Sandi, menjelaskan bahwa ada kurang lebih lima titik utama yang dikunjungi.

Perjalanan dimulai dari Museum Sandi menuju arah Jembatan Gondolayu, lalu menyisir Jalan I Dewa Nyoman Oka (dahulu Jalan Batanawarsa nomor 32). Lokasi ini sangat bersejarah karena pernah menjadi kantor Kementerian Pertahanan Bagian B (Intelijen) pasca-peristiwa 4 April 1946.

Rute berlanjut hingga ke Monumen Sanapati yang berdiri tegak di depan Gereja Santo Antonius Padua, sebuah simbol yang merepresentasikan tiga pilar persandian: software, hardware, dan manware.

Mandat Jam 10 Pagi dan Pengakuan Dunia

Sejarah persandian RI sendiri lahir dari mandat singkat yang sangat menentukan. Pada 4 April 1946 pukul 10.00 pagi, Menteri Pertahanan Mr. Amir Sjarifuddin memberikan mandat kepada Roebiono Kertopati untuk membentuk unit pemberitaan rahasia.

“Inilah yang menjadi cikal bakal seluruh sistem persandian negara hingga hari ini,” lanjutnya.

Kehebatan sistem ini diakui secara internasional. Setyo mengungkapkan bahwa Museum Sandi Yogyakarta merupakan satu-satunya museum kriptografi di Asia.

“Dunia internasional melihat kita sebagai inisiator. Amerika punya di bawah NSA, Inggris punya GCHQ, dan yang ketiga adalah Indonesia,” jelas Setyo.

Ia menambahkan fakta menarik bahwa pada 2019, pihak Rusia datang belajar ke Museum Sandi sebelum akhirnya mereka membangun museum serupa di Moskow pada 2021.

Terbuka untuk Umum: Mengenal Sosok Zulkifli Lubis

Kabar baik bagi masyarakat umum, perjalanan sejarah ini bukan hanya untuk kalangan internal pemerintah. Tur “Jejak Intelijen di Kotabaru” rutin dibuka untuk publik sebanyak dua kali dalam sebulan.

Dalam tur yang dilaksanakan setiap Jumat petang ini, masyarakat bisa mengenal lebih dekat sosok Zulkifli Lubis, Bapak Intelijen Negara, yang dulu juga tinggal di wilayah Kotabaru.

“Masyarakat bisa mendaftar di Museum Sandi. Nanti akan ada edukator yang menjelaskan lokasi-lokasinya secara detail,” pungkasnya.

Melalui tur ini, Kotabaru bukan lagi sekadar kawasan cagar budaya yang diam. Ia adalah saksi bisu bahwa kedaulatan informasi Indonesia telah dibangun dengan cerdas dan gagah berani sejak fajar kemerdekaan. (*)