
Keberhasilan PSIM Jogja selama masa promosi ke Liga 1 justru dibayangi kenyataan pahit. Saat klub lain menikmati euforia kembali ke kasta tertinggi dengan fasilitas yang memadai, Laskar Mataram malah belum bisa menggunakan Stadion Mandala Krida sebagai kandang akibat proyek renovasi yang tak kunjung tuntas.
Ironi itu disorot Jogja Corruption Watch (JCW) melalui aksi teatrikal yang digelar aktivisnya, Baharuddin Kamba, di pelataran Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) DIY, Sorowajan, Bantul, Selasa (9/6/2026).
Dalam aksinya, Kamba mengenakan jersey PSIM, blangkon, dan kain jarik. Ia menebarkan uang mainan dan melakukan tabur bunga di atas map bertuliskan “Kami Berisik Karena Terusik, #Usut Tuntas Korupsi Mandala Krida”.
Menurut Kamba, kondisi yang dialami PSIM sangat memprihatinkan. Klub kebanggaan warga Kota Jogja itu terpaksa mengungsi untuk menggelar pertandingan kandang karena Mandala Krida belum memenuhi syarat Liga 1.
“Yang kami khawatirkan adalah anggaran atau cost yang begitu tinggi yang harus dikeluarkan oleh tim,” kata Kamba.
Situasi tersebut kontras dengan klub PSS Sleman. Setelah kembali promosi ke Liga 1 musim depan, PSS sudah memiliki Stadion Maguwoharjo yang siap digunakan sebagai kandang dan venue kompetisi profesional.
Sementara PSIM yang identik dengan Mandala Krida justru masih menunggu kejelasan penyelesaian stadionnya.
Kamba mendesak Pemda DIY dan Pemerintah Kota Yogyakarta segera menuntaskan persoalan Mandala Krida, terutama fasilitas lampu stadion yang hingga kini belum rampung.
“Saya khawatir kalau lampu tidak ada, nanti kritikan suporter saat main malah bawa lilin, bawa senter, atau bawa petromaks sekalian. Itu kan bisa jadi kritik sosial yang menarik,” ujarnya.
JCW juga meminta Pemda DIY dan Pemkot Jogja membuka komunikasi langsung dengan pimpinan KPK agar ada kepastian terkait kelanjutan proyek yang sempat tersandung kasus korupsi.
“Itu agar ada kejelasan kelanjutan renovasi pembangunan Stadion Mandala Krida. Ini penting bagi nasib klub,” tegasnya. (*)













