Dari 8.008 keluarga miskin ekstrem di Bantul, hanya 143 anak yang berhasil lolos seleksi masuk Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 Sonosewu. Artinya, peluang diterima hanya 1 dari 56 keluarga miskin.
“Bantul paling banyak di antara lima kabupaten kota yang terpilih,” kata Kepala Dinsos Bantul Gunawan Budi Santosa, Senin (14/7/2025) saat ditemui pada hari pertama masuk sekolah di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 Sonosewu.
Seleksi ketat ini berdasarkan tingkat kesejahteraan keluarga yang terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Program ambisius Presiden Prabowo ini digadang-gadang dapat memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan gratis berkualitas.
Kepala Dinsos DIY Endang Patmintarsih mengungkap, total 275 siswa diterima di dua SR DIY – 200 di Sonosewu dan 75 di Puromartani.
“Ini hasil kolaborasi luar biasa selama tiga bulan persiapan,” ujarnya.
Hari pertama dimulai dengan pemeriksaan kesehatan komprehensif untuk mencegah penyakit menular di asrama.
Kepala Bidang Kesmas Dinkes Bantul Abednego Dani Nugroho menjelaskan, skrining meliputi penyakit tidak menular, metabolisme tubuh, hingga tes kebugaran dengan lari 1.600 meter untuk mengukur VO2 max.
“Kondisi boarding school mengharuskan kita waspadai penyakit menular, terutama tuberkulosis,” kata Abednego.
Suhardata (52), warga Pleret Bantul, bersyukur putrinya Yusma lolos seleksi. “Anak saya berkeinginan sendiri sekolah di sini. Saya ikuti kemauan dia,” katanya.
Dia pun senang karena seluruh biaya pendidikan, asrama, hingga fasilitas ditanggung Kementerian Sosial. Dia hanya menyiapkan bekal pakaian yang cukup untuk putrinya.
“Syaratnya sederhana, cuma fotokopi KK, rapor SMP, dan foto kondisi rumah,” tandasnya. (*)














