Kampung Remadan Jogokariyan ke-22, Harmoni Ekonomi Umat Disertai Tanggung Jawab Lingkungan

0
69
Gapura Kampung Ramadan Jogokariyan tak jauh dari Masjid Jogokariyan, Kota Jogja, selalu ramai saat menjelang berbuka puasa. (zukhronnee muhammad)

Setiap Ramadan, jalan-jalan sempit di sekitar Masjid Jogokariyan berubah wajah. Lapak demi lapak berdiri, aroma beragam makanan menguar, dan ribuan orang tumpah ruah mencari takjil.

Pada Rabu (18/2/2026) sore, pemandangan itu kembali hadir, kini untuk yang ke-22 kalinya.

Tahun ini, 413 lapak UMKM siap melayani pengunjung dari berbagai penjuru. Sebanyak 248 di antaranya milik warga Jogokariyan sendiri, yang sudah hafal betul selera pengunjung.

Agus, misalnya, sudah dua tahun berturut-turut hadir dengan Lumpia Beef-nya. “Persaingan makin ketat, tapi selama rasanya terjaga, pelanggan tetap datang,” katanya santai saat diwawancarai.

Tak cuma pedagang, masjid sendiri menyiapkan 3.800 porsi buka puasa gratis setiap hari. Jumlah ini meningkat dari 3.500 porsi tahun lalu. Menunya berganti tiap hari, mulai dari gulai ayam, opor, brongkos, hingga sajian nusantara lainnya.

Sajian ini dimasak oleh 28 kelompok ibu-ibu PKK secara gotong royong. Yang menarik, semua disajikan di piring bukan kemasan sekali pakai. Hal ini dilakukan agar mendorong jamaah berbuka di tempat sekaligus menekan produksi sampah.

Pasalnya Ramadan tahun ini datang dengan beban yang tidak ringan. Kota Jogja sedang bergulat dengan krisis sampah sejak TPA Piyungan tutup permanen awal 2026.

Setiap hari, sekitar 300 ton sampah diproduksi warga, jauh melampaui kapasitas pengolahan kota yang hanya 190 ton. Belum lagi Ramadan, yang secara historis mendongkrak volume sampah secara signifikan.

“Ramainya pengunjung adalah berkah, tapi harus diiringi tanggung jawab,” tegasnya, seraya mengajak semua pihak mengurangi plastik sekali pakai.

Ketua Takmir Muhammad Rizki Rahim menyebut KRJ bukan sekadar pasar Ramadan biasa.

“Di sini, ekonomi warga dan nilai religiusitas tumbuh beriringan. Itu yang membuat Jogokariyan berbeda dari tempat lain,” ujarnya.

KRJ ke-22 pun menjadi cermin — seberapa siap warga Jogja merayakan Ramadan tanpa mewariskan tumpukan sampah kepada kotanya sendiri. (*)