
DIY kerap menghadapi ancaman siber yang serius. Jutaan anomali aktivitas siber dilaporkan menyerang sistem informasi di daerah setiap harinya, dengan ancaman paling kompleks berupa pencurian data pribadi hingga ke dokumen pemerintahan.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika DIY sekaligus Ketua Forum Komunikasi Siber dan Sandi DIY, Hari Edi Tri Wahyu Nugroho, S.IP., M.SI, mengungkapkan bahwa dinamika teknologi dan masyarakat saat ini sangat mempengaruhi kerentanan sistem.
“Di DIY saja, terdapat jutaan anomali aktivitas yang harus kita pantau setiap hari agar tidak menjadi serangan siber yang nyata, terutama di lingkungan Pemda DIY,” ujar Hari Edi di sela peringatan HUT ke-80 Persandian di Museum Sandi, Yogyakarta, Sabtu (4/4/2026).
“Saat ini peretas semakin tangguh seiring perkembangan teknologi, dan yang paling kita waspadai adalah penarikan atau pencurian data,” lanjutnya.
Menghadapi ancaman tersebut, Hari menjelaskan bahwa DIY telah memperkuat sinergi melalui Forum Komunikasi Siber dan Sandi yang melibatkan OPD, TNI, Polri, Kejaksaan, hingga BINDA.
“Kami juga mengoptimalkan tim CSIRT (Computer Security Incident Response Team) yang melibatkan akademisi untuk saling bertukar informasi teknis terkait perkembangan ancaman yang ada,” tambahnya.
Namun, kecanggihan teknologi (software dan hardware) dinilai tidak akan cukup tanpa integritas sumber daya manusia yang kuat.
Hal ini ditekankan oleh Kepala Museum Sandi, Setyo Budi Prabowo, S.ST. Ia mengingatkan kembali pesan legendaris dari pendiri persandian nasional, dr. Roebiono Kertopati.
“Pendiri persandian dulu menyampaikan bahwa kekhilafan satu orang saja cukup untuk menyebabkan keruntuhan negara,” tegasnya.
“Pesan ini masih sangat radikal dan relevan hingga sekarang. Mau secanggih apa pun sistemnya, jika SDM atau manware-nya lalai, pertahanan kita akan bobol,” imbuhnya.
Setyo merujuk pada insiden kebocoran data nasional (PDNS 2) beberapa waktu lalu sebagai contoh nyata dampak kekhilafan personel. Menurutnya, etos sandi dan integritas harus menjadi fondasi utama bagi setiap insan persandian di Jogja.
Nilai-nilai tersebut, lanjut Setyo, terpatri dalam Monumen Sanapati di Kotabaru yang melambangkan tiga pilar utama: People, Process, dan Technology.
“Monumen itu adalah pengingat bagi kita di Yogyakarta bahwa manware atau manusia adalah kunci dari Sana Paruk Sarta Bhakti—tempat kerahasiaan dan pengabdian,” pungkasnya. (*)













