
Bencana di kampung halaman ternyata ikut menghantam kehidupan mahasiswa Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang menempuh pendidikan di Jogja.
Vansianus Masir (Ancik), mahasiswa semester 8 di salah satu kampus di Yogyakarta, bahkan sempat kehilangan kontak dengan ibunya selama tiga hari setelah gempa dan tanah longsor melanda wilayah NTT.
Ancik mengatakan, pada hari pertama gempa, ia masih sempat menelepon ibunya. Namun, komunikasi terputus setelah jaringan dan listrik lumpuh.
“Informasi pertama saya dapat dari status WhatsApp, lalu saya langsung telepon Mama dan saat itu masih aktif. Tapi setelah itu, dari siang sampai hari ketiga, sudah tidak bisa dihubungi lagi,” ujar Ancik pada Rabu (19/8/2026).
Kabar tentang kondisi kampung baru diterimanya dari seorang rekan melalui media sosial. Keluarga inti selamat. Namun, kecemasannya belum reda karena ibunya kini tinggal seorang diri di rumah, sementara adik-adiknya berada di Surabaya dan Malaysia.
“Mama sendirian di rumah, Bapak sudah tidak ada. Adik-adik kuliah di Surabaya dan satu saudara lagi bekerja di Malaysia,” katanya.
Dampak bencana juga terasa langsung di Jogja. Kiriman dari kampung terhenti. Untuk bertahan, Ancik mengandalkan bantuan makanan dan berutang lebih dulu di warung.
“Saya di sini untuk makan dari bantuan nasi darurat, sementara ngebon (berutang) dulu ke warmindo. Saya paham kondisi di kampung sedang sulit, jadi belum bisa berharap ada kiriman,” tuturnya.
Kondisi mahasiswa terdampak menjadi perhatian Pemda DIY. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan pemerintah akan mendata mahasiswa terdampak dan berkoordinasi dengan kampus untuk memberikan keringanan biaya pendidikan.
Mahasiswa NTT di asrama juga mendapat bantuan beras dan telur hingga empat bulan. Pemda DIY turut menghibahkan Rp1 miliar serta mengirim obat-obatan dan alat kesehatan senilai Rp38 juta ke daerah terdampak.
Bagi Sultan, perhatian terhadap mahasiswa terdampak bencana merupakan tradisi yang telah dilakukan sejak era Sultan HB IX.
“Sebetulnya saya hanya melanjutkan hal-hal seperti ini yang pernah dilakukan oleh Sultan ke-9 (Sultan HB IX) pada waktu peristiwa PRRI Permesta,” ujar Sultan.
Kini, bagi Ancik, jarak Jogja dan kampung halaman bukan sekadar ribuan kilometer. Jarak itu terasa ketika kabar dari ibu yang tinggal seorang diri harus ditunggu dalam ketidakpastian. (*)













