Buku SRPB Diluncurkan di UNISA, Jembatani Ideologi dan Realitas Perempuan

0
1
Membedah buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan (SRPB) karya Dr Askuri di UNISA Yogyakarta. (Zukhronnee Muhammad)

Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta meluncurkan dan membedah buku Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan (SRPB) karya Dr. Askuri, pada Rabu (22/4/2026). Buku setebal 700 halaman ini disiapkan sebagai panduan praktis menjawab persoalan nyata perempuan di tingkat akar rumput.

Askuri mengatakan, banyak persoalan yang ditemui di lapangan tidak cukup dijawab dengan teks normatif. Ia mencontohkan kasus kekerasan digital pada siswa, etika layanan kesehatan lintas gender, hingga persoalan pinjaman online dan poligami.

“Pertanyaan-pertanyaan itu nyata di masyarakat. Risalah Perempuan Berkemajuan perlu penjelasan yang lebih operasional agar bisa diterapkan,” ujarnya saat berbicara dalam acara bedah buku tersebut pada Rabu (22/4/2026) di Kampus UNISA Yogyakarta.

Menurutnya, buku ini merupakan bentuk tanggung jawab akademik sekaligus dakwah untuk menghadirkan solusi kontekstual di tengah perubahan sosial yang cepat.

Mewakili Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Efi Sofia Inayati menegaskan konsep Perempuan Berkemajuan bukan hal baru. Gagasan tersebut, kata dia, telah berakar sejak era Nyai Ahmad Dahlan.

“Ini peneguhan identitas ‘Aisyiyah. Teksnya harus terus dihadapkan dengan realitas, termasuk disrupsi digital dan persoalan keluarga,” kata Efi.

Ia menyebut ada empat pesan utama dari buku ini, yakni penguatan karakter universal, etos tauhid, kontekstualisasi teks, dan peran perempuan sebagai aktor peradaban.

Sementara itu, Rektor UNISA Dr. Warsiti menilai buku tersebut memperkuat identitas kampus sebagai institusi berwawasan perempuan.

“Ini menjadi bukti akademik bahwa nilai Risalah Perempuan Berkemajuan diimplementasikan dalam pendidikan dan kehidupan sosial,” ujarnya.

Peluncuran buku bertepatan dengan peringatan Hari Kartini. Warsiti menekankan, esensi Kartini tidak berhenti pada simbol, melainkan keberanian perempuan untuk terus belajar dan memberi manfaat.

Diskusi juga menyoroti penggunaan istilah syarah sebagai bagian dari tradisi intelektual Islam. Askuri menilai, tradisi tersebut perlu dihidupkan kembali secara terbuka dan inklusif.

Melalui buku ini, ‘Aisyiyah dan UNISA berharap lahir ruang tafsir kolektif yang memungkinkan perempuan dari berbagai latar belakang ikut memaknai dan mengembangkan gagasan Perempuan Berkemajuan sesuai konteks zaman. (*)