Usia Delapan Dekade, Sri Sultan HB X Tekankan Kesehatan dan Kesejahteraan Warga Jogja

0
31
Sri Sultan Hamengku Buwono X saat memberikan pernyataan di depan awak media. (humas jogja)

Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, merayakan peringatan hari ulang tahun (Yuswa Dalem) ke-80 pada Kamis (2/4/2026).

Dalam momentum tersebut, Sultan menekankan pentingnya menjaga kesehatan serta memastikan hasil bumi dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat.

Ditemui usai rangkaian acara di Keraton Yogyakarta yang berlangsung lebih dari tiga jam, Sultan mengakui kondisi fisiknya yang tidak lagi sekuat dulu.

“Ya, yang pertama, usia 80 disuruh berdiri tiga jam lebih ya ora kuat (tidak kuat). Saya berterima kasih kepada teman-teman semua, para pejabat yang hadir dalam kesempatan ini,” ujar Sultan.

Ia menambahkan, di usia yang kini memasuki delapan dekade, harapan utamanya adalah kesehatan bersama.

“Semoga saja semua sama-sama sehat. Yang penting itu,” imbuhnya.

Terkait masa depan DIY, Sultan menyinggung filosofi Jawa Lir Gumanti, yang menggambarkan perubahan yang berlangsung secara berkesinambungan. Filosofi ini menjadi penanda pentingnya kesinambungan pembangunan dan transisi kepemimpinan di Jogja.

Selain itu, Sultan juga mengapresiasi hasil bumi yang ditampilkan masyarakat dalam peringatan tersebut. Menurutnya, kualitas sektor pertanian di DIY menunjukkan perkembangan positif.

Sebagai simbol keberpihakan kepada rakyat, Sultan menyerahkan kembali gunungan hasil bumi kepada para bupati dan wali kota se-DIY untuk dibagikan kepada masyarakat.

“Ini saya kembalikan untuk mereka lagi, untuk warga masyarakat. Makanya saya serahkan secara simbolis kepada Pak Bupati dan Walikota dengan harapan ya bisa dibagi rata agar bermanfaat bagi masyarakat. Itu saja,” tegasnya.

Peringatan Yuswa Dalem ke-80 turut dimeriahkan Kirab Budaya Nayantaka yang melibatkan sekitar 10.000 hingga 12.000 peserta.

Para lurah dan perangkat desa dari seluruh DIY berjalan dari kawasan Malioboro menuju Alun-alun Utara sebagai bentuk penghormatan kepada Sultan.

Kegiatan ini menjadi simbol kuatnya nilai Manunggaling Kawula Gusti, yang mencerminkan kedekatan antara pemimpin dan rakyat di tengah perkembangan zaman. (*)