
Di tengah gempuran ritel modern dan platform digital yang kian masif, Gardena Jogja memilih untuk tetap berpijak pada akarnya: sebagai toko legendaris keluarga.
Memasuki usia ke-50, pusat perbelanjaan di Jalan Urip Sumoharjo ini bersiap menyambut lonjakan pengunjung Ramadhan dan Lebaran 2026 melalui kampanye “Cahaya Ramadhan”.
General Manager Gardena, Yenny Wahyuni, menegaskan bahwa modal utama mereka menghadapi persaingan adalah kedekatan emosional.
“Kekuatan kami ada pada kepercayaan lintas generasi. Gardena bukan sekadar tempat belanja, tapi bagian dari memori keluarga di Yogyakarta,” ujarnya.
Strategi bertahan Gardena tak hanya soal nostalgia. Di lantai supermarket, Mateus Trisna dan Triana Kun (SPV Dept Lantai 1 & Supermarket) memastikan stok pangan aman dengan kebijakan harga murah setiap hari.
“Kami sudah melipatgandakan stok sirup, biskuit, hingga bahan pokok. Fokusnya adalah ketersediaan barang agar konsumen tidak kecewa saat permintaan memuncak,” jelasnya.
Bergeser ke lantai dua, Eka Widia selaku SPV Dept Fashion telah menyiapkan amunisi diskon hingga 70%. Koleksi baju anak dan busana muslim terbaru dihadirkan untuk menarik minat keluarga yang ingin tampil modis namun tetap hemat.
Sementara di lantai tiga, Agung Widodo memastikan kebutuhan perlengkapan ibadah dan alat tulis untuk hantaran tersedia lengkap, melengkapi konsep belanja satu atap.
Sisi adaptasi digital juga diperkuat. Kepala Promosi Gardena, Dwi Teguh Nugroho, menjelaskan bahwa Gardena kini lebih agresif di marketplace.
“Kami berevolusi mengikuti tren. Selain promo fisik, layanan online dan fasilitas gratis antar parcel untuk wilayah Ringroad mulai harga Rp150 ribu menjadi cara kami memanjakan pelanggan,” ungkapnya.
Untuk melengkapi pengalaman belanja, Café Omah Gemati turut menghadirkan menu All You Can Eat seharga Rp40 ribu. Melalui kombinasi harga kompetitif, kenyamanan fisik, dan sentuhan digital, si “toko legenda” ini optimistis tetap menjadi magnet utama bagi warga Jogja maupun pemudik di musim Lebaran tahun ini. (*)













