
Ada pemandangan berbeda di SMKN 4 Yogyakarta pada awal Februari 2026 ini. Di tengah kesibukan mencetak tenaga profesional muda, sekolah ini sejenak “kembali ke akar” sekaligus mengasah kepekaan sosial.
Merayakan usianya yang ke-50 tahun alias Ulang Tahun Emas, SMKN 4 Yogyakarta menggelar pesta yang tidak hanya mengawinkan semangat anak muda dengan budaya, tetapi juga kepedulian terhadap sesama.
Puncak perayaan yang digelar Senin (2/2/2026) menjadi etalase utama harmoni tersebut. Pagi hari di lingkungan sekolah dibuka dengan langkah tegap dan wibawa dari barisan Bregada Adisara.
Pasukan bergaya prajurit keraton yang beranggotakan siswa ini memiliki rekam jejak prestisius, yakni pernah bertugas mengawal kirab Sang Saka Merah Putih di Gedung Agung Yogyakarta saat HUT ke-80 RI.
Di belakang barisan bregada, nuansa kebhinekaan terasa kental lewat penampilan guru yang mengenakan pakaian adat Nusantara, diikuti ribuan siswa dengan kostum karnaval kreatif.
Usai karnaval, atmosfer berubah cair dan penuh energi saat panggung utama diambil alih oleh bintang tamu Pendhoza. Grup musik asal Bantul ini sukses mengajak warga sekolah bernyanyi lewat lagu-lagu hits berbahasa Jawa, menandai sisi modernitas acara.
Berbagi Kasih
Namun, kemeriahan panggung hiburan hanyalah puncak gunung es. Sekretaris Panitia, Santi Kusuma Dewi, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan bahwa semarak Ulang Tahun Emas ini sejatinya telah dimulai sejak Jumat (30/1/2026) dengan pondasi spiritual dan sosial yang kuat.
Sebelum pesta digelar, sekolah lebih dulu mengadakan Pengajian Akbar bersama Rizqi Ashidqi, M.Pd., serta kegiatan berbagi kasih.
“Di hari yang sama, kami melaksanakan bakti sosial ke Panti Jompo Budhi Dharma di Giwangan. Kegiatan ini dikoordinir langsung oleh Kepala Sekolah, Dra. Nurlatifah Hidayati, M.Hum.,” jelas Santi.
Langkah ini diambil sebagai wujud syukur sekolah yang telah berdiri setengah abad, dengan cara berbagi kebahagiaan bersama para lansia.
Market Day dan Lomba Unik
Selain aspek religius dan sosial, kemeriahan internal juga dibangun lewat kegiatan Market Day dan aneka lomba yang mengundang gelak tawa. Santi menceritakan serunya lomba-lomba tradisional seperti estafet kelereng, menyusun menara, hingga pecah air.
“Yang paling seru ada lomba baris-berbaris untuk guru dengan mata ditutup kain. Ini menjadi momen keakraban luar biasa antara guru dan siswa,” tambahnya.
Market Day yang diikuti perwakilan kelas juga menjadi ajang siswa melatih jiwa kewirausahaan mereka di tengah suasana pesta.
Wakil Ketua Panitia, Jamadi, S.Ag., M.S.I., menutup dengan refleksi bahwa seluruh rangkaian ini—dari pengajian, baksos, market day, karnaval budaya, hingga konser musik—adalah satu kesatuan paket pendidikan karakter.
“Di era sekarang, soft skill, budaya, dan empati menjadi benteng agar anak-anak tidak hanya siap kerja, tapi juga punya jati diri yang kuat,” pungkasnya.
Di usia ke-50 ini, SMKN 4 Yogyakarta membuktikan bahwa perayaan ulang tahun sekolah bisa menjadi paket lengkap: meriah secara visual, menghibur secara musikal, namun tetap santun dan peduli secara sosial. (*)













