
Pemda DIY serentak tancap gas membenahi infrastruktur ekonomi rakyat pada awal 2026. Dua wilayah yaitu Kota Jogja dan Kabupaten Sleman, mengajukan rencana besar revitalisasi pasar tradisional dengan pendekatan yang kontras namun strategis.
Di Kota Jogja, Wali Kota Hasto Wardoyo menargetkan Pasar Kranggan dan Pasar Demangan sebagai prioritas utama. Hasto membawa konsep progresif untuk Pasar Kranggan: menyulapnya dari sekadar tempat transaksional menjadi ruang publik modern.
“Mudah-mudahan Pasar Kranggan bisa di-make up, kemudian bagian atasnya bisa menjadi tempat nongkrong untuk ngopi. Itu cita-cita kami,” ujar Hasto, Jumat (2/1/2026).
Langkah ini diambil untuk menarik kembali minat generasi muda masuk ke pasar. Sementara itu, rehabilitasi Pasar Demangan difokuskan pada perbaikan fisik bangunan guna kenyamanan pedagang.
Pemkot menargetkan penyusunan Detail Engineering Design (DED) rampung tahun ini agar pengerjaan fisik bisa dimulai 2027.
Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman menempuh langkah serupa dengan mengajukan revitalisasi Pasar Pakem, Pasar Ngino, dan Pasar Kebonagung ke pemerintah pusat.
Kepala Disperindag Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih, menjelaskan urgensi perbaikan ini didasari kondisi bangunan yang sudah tua. Namun, ada strategi kewilayahan yang kuat di baliknya.
Pasar Pakem disiapkan sebagai gerbang pariwisata Sleman utara (Kaliurang), sedangkan Pasar Ngino dan Kebonagung di wilayah barat dipersiapkan khusus untuk menyambut operasional jalan tol.
“Wilayah barat ini untuk menyambut exit tol, yang utara untuk wisatawan,” tegas Mae, Rabu (7/1/2026).
Meski urgensi tinggi, nasib pasar-pasar di Sleman ini masih bergantung penuh pada kebijakan anggaran pemerintah pusat (APBN).
“Baru mengusulkan ke pusat. Targetnya belum bisa dipastikan, tergantung keputusan pusat,” pungkasnya.
Langkah simultan kedua daerah ini menandakan upaya serius DIY menjaga relevansi pasar rakyat di tengah gempuran modernitas dan masifnya pembangunan infrastruktur nasional. (*)













