7 Juta Wisatawan Diprediksi ‘Nyampah’, Pemkot Jogja Atur Strategi Demi Tampung Lonjakan

0
87
Depo sampah Suryowijayan yang masih menggunung, menunggu jadwal pengosongan oleh Pemkot Jogja. (zukhronnee muhammad)

Bayang-bayang tumpukan sampah menghantui Kota Jogja jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Prediksi serbuan 7 juta wisatawan yang bakal memadati kota ini memaksa Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja memutar otak.

Tak main-main, strategi “kosongkan gudang” diterapkan di depo-depo sampah vital demi menampung potensi ledakan limbah dari jutaan pelancong tersebut.

Walikota Jogja, Hasto Wardoyo, secara gamblang menyebut situasi ini sebagai tantangan berat. Berdasarkan hitungan matematisnya, kedatangan jutaan orang ini membawa konsekuensi ekologis yang nyata.

Jika sebagian besar pengunjung aktif membuang sampah (‘nyampah’) dengan asumsi 0,5 kilogram per orang, volumenya akan meledak drastis.

“Dalam keadaan biasa, total sampah Jogja—termasuk hotel dan industri—itu 300 ton per hari. Tapi saat Nataru, pengalaman kami angkanya naik sampai 40 persen,” tegas Hasto pada Rabu (17/12/2025).

Artinya, Jogja harus bersiap menelan beban sekitar 420 ton sampah per hari saat puncak liburan.

Merespons ancaman ‘tsunami’ sampah wisata ini, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja, Rajwan Taufiq, melancarkan operasi pembersihan total (zero volume) di titik-titik pusat keramaian, khususnya kawasan sirip Malioboro.

“Depo-depo sirip Malioboro sudah kami kurangi, bahkan kosong. Saat ini Depo Mandala Krida, Purawisata, Argolubang, Pengok, dan RRI sudah zero volume,” ujar Rajwan.

DLH kini berpacu dengan waktu. Sisa sampah di Depo Serangan, Ngasem, Suryowijayan dan Prenggo dijadwalkan “digerus habis” pada 22 dan 24 Desember agar siap menampung sampah wisatawan. Langkah ekstrem bahkan diambil untuk Depo RRI yang kini ditutup permanen pasca-dikosongkan.

“RRI saya nyatakan ditutup, tidak dibuka lagi. Insyaallah selamanya bersih,” tambahnya.

Sebagai benteng pertahanan terakhir, DLH menyiagakan 45 armada truk—termasuk 15 truk kompresor berkapasitas besar—dan menyiapkan lokasi cadangan di Tegal Gendu serta Pasar Pasty.

Namun, Rajwan mewanti-wanti lokasi cadangan ini hanya boleh menerima sampah organik kering tak berbau, demi menjaga wajah kota tetap nyaman bagi warga maupun wisatawan. (*)