
Suasana Refresh All-day Dining Garrya Bianti Yogyakarta terasa berbeda pada Jumat (21/11/2025) malam. Aroma serai, jeruk limau, dan rempah segar Thailand menguar menyambut para tamu yang hadir dalam perhelatan The Master’s Plate: Thai Legacy.
Acara ini menjadi tempat bagi dua koki dengan latar berbeda—Chef Degan Septoadji dan Host Chef Edy Santoso—yang menyatukan visi untuk menghadirkan rasa Thailand yang terstruktur namun tetap hangat.
Chef Degan, dengan pengalaman panjang di Banyan Tree Hotels & Resorts dan Banyan Tree Bangkok, membawa pendekatan masak yang ia rumuskan sebagai presisi yang berpadu intuisi.
“Masakan Thailand hidup dari dinamika rasa. Tidak boleh ada yang mendominasi,” tuturnya kepada awak media yang hadir.
Ia menekankan bahwa teknik heat control dan pemilihan rempah segar menjadi kunci agar aroma tidak hilang ketika terkena panas.
“Masakan Thailand sering kali soal momen. Lima detik terlalu lama bisa mengubah rasa,” imbuhnya.
Menurutnya, keunikan kuliner Thailand juga terletak pada fleksibilitas bahan.
“Selama prinsipnya terjaga—asamnya, pedasnya, gurihnya—bahan lokal bisa masuk tanpa menghilangkan identitas Thail,” kata dia.
Kolaborasi dengan Chef Edy memperkuat karakter tersebut. Chef Edy memastikan bahan lokal berkualitas hadir pada setiap hidangan, memberi kedekatan rasa sekaligus menjaga standar internasional.
Perjalanan kuliner dimulai dengan Larb Gai, disusul Yum So O Hoi Shell yang memadukan scallop panggang, pomelo, dan dressing asam jawa. Tom Kha Goong membawa kehangatan santan dan serai, sementara Pla Neung Manao menyajikan kesegaran barramundi dengan stroberi, mint, dan minyak cabai hijau.
Pada hidangan utama, Massaman Nuea menjadi sajian yang paling ditunggu. Chef Degan menjelaskan bahwa menu ini menjadi andalannya pada perhelatan Thai Legacy karena proses memasaknya yang panjang namun menghasilkan rasa yang lembut dan berlapis.
“Massaman adalah kari yang penuh kesabaran. Iga sapi harus dimasak perlahan selama 72 jam agar seratnya melepas tanpa kehilangan jusnya,” jelasnya.
Bumbu massaman dibuat dari pasta kari yang ia ramu sendiri menggunakan rempah segar, kemiri, kayu manis, dan pala. Tujuannya bukan membuat pedas, tetapi membangun kedalaman rasa. Kari ini harus kaya, hangat, dan menyentuh.
Ia menambahkan bahwa keseimbangan antara lemak daging, kekentalan kuah, dan aroma rempah menjadi tantangan utama.
“Kalau salah satu terlalu kuat, karakter massaman hilang. Itu sebabnya kontrol api sangat penting,” imbuhnya.
Hidangan penutup disajikan dalam tiga karakter: Tub Tim Grob dengan tekstur renyah dalam sirup santan, Roselle Jelly dengan buih leci yang ringan, serta Crispy Mango Sticky Rice Roll dengan es krim kelapa.
Menurut Winda Sukma, Public Relations Garrya Bianti, acara ini dirancang sebagai pengalaman yang utuh.
“Kami ingin tamu tidak hanya menikmati hidangan, tetapi memahami cerita di baliknya. Thai Legacy dibuat untuk menghadirkan kedekatan melalui rasa,” tandasnya. (*)
















