Dugaan keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Mlati, Sleman, tidak hanya menimpa siswa, tetapi juga tujuh guru di SMP Negeri 2 Mlati. Para guru itu diketahui menyantap sisa menu MBG yang sebelumnya ditolak oleh siswa pada Kamis (23/10/2025).
“Tujuh guru ikut mengalami gejala keracunan. Mereka makan MBG sisa yang tidak dimakan siswa,” kata Kepala SMPN 2 Mlati, Isnan Abadi, kepada wartawan, Sabtu (25/10/2025).
Menu MBG yang dikonsumsi terdiri atas nasi, ayam opor, tahu balado, acar, dan buah anggur. Makanan dikirim ke sekolah sekitar pukul 10.30 WIB dan disantap pada pukul 12.00 WIB. Beberapa jam kemudian, baik siswa maupun guru mulai merasakan gejala seperti sakit perut dan diare.
“Kalau ada siswa yang tidak makan, biasanya sisa itu dimakan guru. Tidak semua, hanya sebagian saja,” ujar Isnan.
Gejala pertama muncul sekitar pukul 21.00 WIB, Kamis malam, dan memuncak keesokan harinya. Total 53 siswa SMPN 2 Mlati dilaporkan sakit, 12 di antaranya sempat dibawa ke Puskesmas. Seorang siswa harus dirujuk ke Rumah Sakit Akademik UGM karena lemas dan membutuhkan infus.
“Alhamdulillah sudah semua membaik. Satu siswa yang dirujuk ke RSA UGM sudah diperbolehkan pulang sekitar pukul 15.45 WIB,” ungkap Isnan.
Kasus serupa juga terjadi di dua sekolah lain yang mendapat pasokan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sinduadi, yakni SD Jombor Lor dan MAN 3 Sleman.
Berdasarkan data Plt Panewu Mlati, Arifin, total korban mencapai 215 orang, terdiri dari siswa dan guru.
Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, mengatakan sampel makanan telah dikirim ke Labkesmas untuk diteliti.
“Sampelnya nasi, opor ayam, tahu balado, acar timun wortel, dan buah anggur. Hasilnya belum keluar,” ujarnya. (*)














