Komunikasi Hati, Cara Gen Z SMK Kokap Lawan Cyberbullying

0
94
Penyerahan buku Komunikasi Hati kepada pihak sekolah. (istimewa)

Hujan rintik turun membasahi halaman SMK N 1 Kokap, Kulon Progo, Kamis (11/9/2025). Di dalam gedung pertemuan sekolah, suasana hangat justru terasa. Ratusan siswa kelas XI duduk rapi, menyimak pemaparan para tamu yang datang khusus untuk berbagi ilmu dan pengalaman.

Hari itu, sekolah mereka menjadi tuan rumah roadshow kelima implementasi model literasi digital Sikomhati.id, sebuah program yang digagas Tim Peneliti UPN Veteran Yogyakarta bersama Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan (Tekkomdik) DIY.

Kegiatan ini bukan sekadar penyuluhan biasa. Ada semangat baru yang dibawa: bagaimana mencegah bullying dan cyberbullying melalui pendekatan literasi digital berbasis komunikasi hati.

Sebuah konsep yang sejak beberapa tahun terakhir dikembangkan oleh Prof. Dr. Puji Lestari, M.Si., peneliti sekaligus pengajar di UPN Veteran Yogyakarta.

Prof. Puji Lestari kemudian menguraikan fondasi Sikomhati: teori komunikasi hati. Ia menjelaskan pentingnya olah pikir yang positif, olah rasa yang mampu mengubah kecewa menjadi energi semangat, hingga kemampuan mengelola “sampah hati” seperti iri dan dendam agar tidak merusak perasaan.

“Kalau pikiran dan perasaan kita positif, perilaku juga ikut positif. Kebiasaan baik inilah yang akan membentuk nasib baik,” katanya.

Prof. Puji yang sejak 2021 konsisten masuk jajaran Top 5 Scientists UPNVY versi AD Scientific Index, mengajak siswa untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mempraktikkannya. Diskusi interaktif pun berlangsung hangat, dengan siswa berani mengaitkan teori komunikasi hati dengan pengalaman sehari-hari.

Kepala Balai Tekkomdik DIY, Rudy Prakanto, S.Pd., M.Eng., menekankan pentingnya generasi muda memahami cara berkomunikasi yang sehat di dunia digital.

“Gen Z harus punya filosofi AKIK: Adaptif, Kolaboratif, Inovatif, dan Komunikatif. Dan poin terakhir, komunikatif, harus diwujudkan dengan komunikasi hati,” tuturnya di hadapan siswa.

Menurutnya, era digital memunculkan banyak perilaku perundungan yang sering luput dari perhatian. Karena itu, Sikomhati.id hadir untuk membantu pelajar mengenali, mengelola, sekaligus mencegahnya sejak dini.

Cerita dari Siswa

Clara Nova Yogina, salah satu siswi, berbagi kisah saat dirinya merasa dikecewakan teman. Alih-alih menyimpan sakit hati, ia mencoba berpikir positif bahwa temannya mungkin sedang menghadapi masalah lain.

“Saya belajar untuk tidak menyimpan sampah hati. Justru mencoba simpati dan empati, akhirnya kami bisa berteman lagi,” ucapnya.

Pengalaman lain datang dari Cici Cesaria yang gagal meraih juara lomba. Rasa kecewa ia olah menjadi semangat untuk berlatih lebih giat.

“Kalau iri sama yang menang, perasaan jadi tambah berat. Saya pilih bersyukur, jadi hati lebih tenang,” katanya.

Cerita-cerita sederhana itu menjadi bukti bahwa komunikasi hati bisa dipraktikkan, bahkan dalam hal-hal kecil di sekolah.

Dukungan Guru dan Sekolah

Kepala SMK N 1 Kokap, Caecilia Luppi Satesti, S.Pd., menyebut kegiatan ini sangat bermanfaat.

“Aplikasi ini membantu siswa memahami bentuk bullying yang kadang dilakukan tanpa sadar. Harapan kami program ini berlanjut, jadi agenda rutin sekolah,” ungkapnya.

Guru Bimbingan Konseling pun memberikan apresiasi. Menurut mereka, Sikomhati.id memberi kemudahan untuk memantau siswa sekaligus menyediakan konten bacaan yang menarik dan relevan.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan buku Komunikasi Hati kepada pihak sekolah, pengenalan teknis penggunaan web Sikomhati.id, serta sesi tanya jawab mendalam dengan para siswa. Di akhir acara, suasana penuh optimisme.

Para siswa diajak untuk membawa komunikasi hati tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga ke rumah, lingkungan sekitar, hingga ruang digital yang semakin ramai dengan ujaran kebencian.

Di tengah derasnya arus informasi, Sikomhati.id hadir sebagai oase: mengingatkan bahwa literasi digital tak sekadar soal keterampilan teknologi, melainkan juga tentang bagaimana menjaga hati tetap bersih dalam berinteraksi. (*)