
Program Sekolah Rakyat yang baru sebulan berjalan di DIY mulai menghadapi ujian serius. Dua siswa resmi mengundurkan diri, sementara inspeksi mendadak menemukan puntung rokok tersembunyi di asrama.
Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih, menegaskan pihaknya tak bisa memaksa siswa yang enggan bertahan.
“Ketika kami sudah benar-benar mengedukasi dan memotivasi mereka, tapi memang keputusannya tidak mau, ya sudah. Saya tidak bisa memaksa,” ujarnya, Kamis (14/8/2025).
Endang mengakui mengubah perilaku siswa butuh proses panjang, mengingat mereka berasal dari latar belakang yang beragam, sebagian dari lingkungan kurang kondusif.
“Kita rangkul, kita motivasi, supaya mereka berubah,” ujarnya.
Di sisi lain, sebagian besar siswa justru menunjukkan perkembangan positif. Mereka lebih disiplin, rajin beribadah, bahkan lebih dari separuh siswa kini rutin menjalankan puasa Senin-Kamis.
Namun kenyataan pahit muncul ketika Kepala Sekolah Rakyat Bantul, Agus Ristanto, mengungkap temuan puntung rokok saat sidak di asrama.
“Masih ada siswa yang merokok, budaya kurang pas ikut terbawa ketika masuk,” katanya.
Puntung itu ditemukan setelah muncul bau mencurigakan di area asrama. Meski tak ada siswa tertangkap basah, indikasi cukup kuat membuat pengawasan diperketat, khususnya saat jam kunjungan orangtua.
“Jangan sampai kami di sekolah kukuh dengan tata tertib baik, tapi tidak didukung pola asuh di rumah,” tegas Agus.
Meski ada pelanggaran dan pengunduran diri, kursi kosong segera digantikan siswa baru yang lebih termotivasi. Program tetap berlanjut dengan harapan besar mampu membentuk generasi muda yang lebih baik. (*)













