Seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masuk status Awas Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis pada Dasarian I September 2026.
Status tertinggi ini ditandai dengan Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari dan peluang curah hujan sangat rendah.
“Untuk peringatan dini kekeringan status Awas memiliki kriteria jumlah Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari dan prakiraan probabilitas curah hujan dasarian kurang dari 20 mm/dasarian dengan peluang di atas 70 persen,” ujar Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Mamenun, Selasa (1/9/2026).
BMKG memprediksi musim kemarau di DIY baru berakhir pada Dasarian I dan II November 2026. Artinya, kondisi kering masih berpotensi berlangsung hingga sekitar dua bulan ke depan.
Kekeringan berkepanjangan dapat mengurangi pasokan air, terutama untuk pertanian. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini berisiko menyebabkan gagal panen.
“Selain itu, juga dapat berdampak pada meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan akibat kekeringan, serta dapat mengakibatkan menurunnya ketersediaan air bersih untuk masyarakat,” kata Mamenun.
Prakiraan BMKG menunjukkan curah hujan DIY sepanjang September sangat minim. Dasarian I dan II diprediksi hanya 0–10 milimeter, sedangkan Dasarian III berkisar 0–20 milimeter.
Kondisi kering diperkirakan berlanjut. Curah hujan September dan Oktober diprakirakan hanya 0–20 milimeter per bulan, sedangkan November 0–100 milimeter per bulan.
Kondisi ini dipengaruhi dinamika atmosfer dan laut, termasuk ENSO yang berada dalam kategori sangat kuat, aktifnya Monsun Australia, serta MJO yang diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia.
BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah mengantisipasi dampak kekeringan, terutama dengan menghemat dan mengelola sumber daya air secara efisien, menjaga ketersediaan air, serta mencegah kebakaran lahan. (*)














