SMA Jetis Jadi Pilot Project Program Anti-Cyberbullying Berbasis Komunikasi Hati

0
92
Program Literasi Komunikasi Hati untuk memerangi cyberbullying di lingkungan pendidikan. (istimewa)

SMA Negeri 1 Jetis, Bantul, resmi menjadi sekolah kedua dari lima Smart School DIY yang mengimplementasikan program Literasi Komunikasi Hati untuk memerangi cyberbullying di lingkungan pendidikan, Selasa (2/9/2025).

Program SiKomhati.id yang digagas tim peneliti ini menargetkan 200 siswa kelas X sebagai subjek uji coba implementasi model literasi digital berbasis komunikasi empatik dan reflektif.

Kepala SMA Negeri 1 Jetis, Sumarno, S.Pd., M.Pd., menyatakan program ini sejalan dengan upaya sekolah menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari perundungan, baik fisik maupun digital.

“Harapannya program ini memberi dampak nyata, terutama dalam menciptakan suasana sekolah yang nyaman dan bebas dari perundungan,” ujar Sumarno saat membuka kegiatan sosialisasi di aula sekolah dalam keterangan tertulisnya Sabtu (6/9/2025).

Ketua Tim Peneliti, Prof. Dr. Puji Lestari, M.Si., memperkenalkan konsep “Komunikasi Hati” yang telah divalidasi melalui penelitian akademis pada 2023. Model komunikasi ini berfokus pada pengembangan olah pikir, olah rasa, pengelolaan emosi negatif (”sampah hati”), serta pembangunan simpati dan empati.

“Sikap positif akan mengarahkan perilaku positif. Perilaku positif dengan perbuatan-perbuatan baik akan membentuk kebiasaan yang baik, selanjutnya kebiasaan yang baik akan mendatangkan nasib yang baik,” jelasnya kepada ratusan siswa yang hadir.

Sebaliknya, Prof. Puji menegaskan bahwa pola pikir negatif akan menciptakan siklus perilaku destruktif yang berujung pada kebiasaan buruk dan dampak sosial yang merugikan.

Model komunikasi hati telah memperoleh validasi resmi dari Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Dr. Didik Wardaya, S.E., M.Pd., dalam Focus Group Discussion (FGD) di Balai Teknologi Komunikasi Pendidikan pada Juni 2024.

Dr. Didik menilai konsep komunikasi hati relevan dan sejalan dengan nilai-nilai keistimewaan Yogyakarta, memberikan legitimasi kebijakan untuk implementasi di sekolah-sekolah Smart School DIY.

Program Berbasis Teknologi dengan Assessment Terukur

Implementasi program melibatkan aplikasi digital SiKomhati yang dikembangkan khusus untuk mendukung literasi komunikasi berbasis gawai. Erik dari tim pengembangan teknologi menjelaskan bahwa aplikasi ini dirancang user-friendly untuk generasi digital native.

Dalam fase uji coba, 200 siswa dibagi dalam dua kelompok eksperimental: kelompok pertama mengakses materi pembelajaran digital, sementara kelompok kedua menjalani assessment komprehensif selama empat minggu.

Siswa yang menunjukkan konsistensi partisipasi hingga minggu keempat akan memperoleh sertifikat kompetensi sebagai bentuk recognition dan motivasi berkelanjutan.

Sebagai bagian dari program, sekolah menerima buku fisik “Komunikasi Hati” yang diserahkan langsung oleh Prof. Puji kepada Kepala Sekolah, disaksikan guru Bimbingan Karir Ika, tim guru BK, dan Pengembang Teknologi Pendidikan Drs. Stefanus Mulyanto, M.Kom.

Selain materi fisik, seluruh siswa mendapat akses e-book “Komunikasi Hati” untuk pembelajaran mandiri, mencerminkan pendekatan hybrid learning yang mengakomodasi preferensi belajar digital siswa.

Anggota tim peneliti Dra. Woro Ediningsih, M.Si., turut mendampingi proses serah terima materi pembelajaran ini.

Program yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.30 WIB ini merupakan bagian dari rencana implementasi bertahap di lima Smart School DIY. SMA Negeri 1 Jetis menjadi sekolah kedua setelah implementasi perdana di sekolah lain.

Kegiatan ditutup dengan pengarahan khusus kepada guru Bimbingan dan Konseling (BK) untuk memastikan keberlanjutan pendampingan siswa dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip komunikasi hati.

Program SiKomhati.id mengadopsi pendekatan pencegahan yang komprehensif, tidak sekadar reaktif terhadap kasus cyberbullying yang sudah terjadi. Dengan membangun fondasi komunikasi yang empatik dan reflektif, program ini bertujuan menciptakan ekosistem digital yang lebih sehat di lingkungan pendidikan.

Data menunjukkan antusiasme positif dari siswa peserta, dengan beberapa siswa mengaku mulai mengenali pola komunikasi hati dalam interaksi sehari-hari mereka.

Implementasi di SMA Negeri 1 Jetis ini akan menjadi benchmark untuk evaluasi efektivitas program sebelum ekspansi ke Smart School DIY lainnya dalam roadmap pengembangan literasi digital anti-cyberbullying di Yogyakarta.(*)