
Sebanyak 347 apoteker, akademisi, dan praktisi rumah sakit dari Indonesia dan sejumlah negara Asia-Pasifik mengikuti seminar internasional dan lokakarya onkologi di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, 15–17 Oktober 2026. Kegiatan ini membahas perkembangan terapi kanker, keselamatan pasien, kedokteran presisi, dan pemanfaatan kecerdasan buatan dalam layanan kesehatan.
Salah satu materi yang dibahas adalah terapi Chimeric Antigen Receptor T-cell (CAR-T) untuk pasien kanker darah yang tidak merespons pengobatan konvensional.
Clinical Assistant Professor Duke-NUS Medical School sekaligus Chair SingHealth Duke-NUS Centre dan pakar National Cancer Centre Singapore, Dr. Vivianne Shih, memaparkan hasil studi klinis ZUMA-1 pada pasien refractory large B-cell lymphoma.
Studi tersebut mencatat angka respons keseluruhan (overall response rate) sebesar 83 persen. Dari pasien yang merespons, hampir 60 persen mencapai respons penuh (complete response).
“Ini terjadi pada kelompok pasien yang mengalami penyakit refrakter dan sangat sulit diobati. Namun, 8 dari 10 pasien memberikan respons. Bahkan setelah lima tahun, ketahanan respons masih berada di angka 31 persen dengan tingkat ketahanan hidup keseluruhan (5-year overall survival) mencapai 42,6 persen,” ujar Vivianne.
Terapi CAR-T menggunakan sel T milik pasien yang diambil melalui proses leukoferesis, kemudian dimodifikasi secara genetik di laboratorium agar dapat mengenali dan menyerang sel kanker. Setelah diproses, sel tersebut diinfuskan kembali ke tubuh pasien.
Teknologi CAR-T generasi kedua menjadi standar yang paling banyak digunakan dalam praktik medis global. Namun, terapi ini membutuhkan seleksi pasien yang tepat, persiapan produk, serta koordinasi dokter, perawat, dan apoteker untuk memantau efek samping dan toksisitas.
Vivianne juga menjelaskan bahwa Singapura telah menyetujui penggunaan tiga produk CAR-T. Dua di antaranya mendapat subsidi pemerintah untuk memperluas akses pasien.
Hadirkan Pembicara dari Enam Negara
Seminar ini diselenggarakan HISFARSI PD IAI DI Yogyakarta bersama HISFARSI PD IAI Jawa Tengah dan Asia Pacific Oncology Pharmacy Community (APOPC). Kegiatan tersebut juga bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Kolegium Farmasi, serta Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kolegium Farmasi.
Pembicara dari Indonesia antara lain Presiden Asia-Pacific Society of Human Genetics sekaligus akademisi FK-KMK UGM, Prof. Dr. Gunardi, Ph.D., Sp.B.A., Subsp. D.A. (K); Prof. Dr. apt. Mustofa, M.Kes., dari FK-KMK UGM; serta Prof. Dr. apt. Zullies Ikawati dari Fakultas Farmasi UGM.
Pembicara dari Jepang adalah Dr. Shinya Suzuki dan Masami Tsuchiya, RPh, PhD. Malaysia diwakili Mr. Tan Wen Chieh dan Dr. Dang Chee Chean, sedangkan Thailand menghadirkan Mr. Manit Saeteaw dan Ms. Mirachorn Kuchonthara.
Dari China hadir Donghui Lao, M.Med., dan Dr. Jiang Qian. Sementara itu, Singapura mengirimkan Vivianne Shih, Mr. Peter Yap, dan Prof. Lita Chew.
Kemenkes Targetkan Layanan Kanker Hingga Kabupaten
Dalam seminar tersebut, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI, Rizka Andalusia, memaparkan target pemerintah menyediakan layanan kanker di seluruh 514 kabupaten/kota pada 2029.
“Pemerintah sedang memperluas akses layanan kanker ini. Di seluruh kabupaten/kota diharapkan bisa melakukan pelayanan kanker, jadi pasiennya tidak perlu lagi dibawa ke kota besar atau ke ibu kota provinsi. Kita mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Rizka.
Menurut Rizka, sebanyak 66 kabupaten/kota belum memiliki rumah sakit tipe C. Kemenkes menargetkan rumah sakit tipe C dapat memberikan pelayanan kanker dasar.
Pemerintah menyiapkan peralatan diagnostik, seperti CT scan dan MRI, laboratorium patologi anatomi, serta peralatan untuk menyiapkan obat kemoterapi.
“Sesuai program PHTC dari Bapak Presiden, 514 kabupaten/kota harus punya CT Scan agar diagnosisnya tepat. Kemenkes juga melengkapi alat laboratorium patologi anatomi dan alat penyiapan obat kemonya,” katanya.
Kemenkes juga menjalankan program pengampuan untuk mendampingi rumah sakit daerah. Rumah sakit rujukan, seperti RS Kanker Dharmais dan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta, RSUP Dr. Kariadi di Semarang, serta RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta, akan membantu RSUD mengembangkan layanan kanker.
“Melalui program pengampuan ini, penanganan kanker di rumah sakit daerah dapat dipercepat. Jika kasusnya sangat sulit, baru dirujuk ke atas. Tidak semua harus dikirim ke RSCM atau Dharmais,” tegas Rizka.
Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, terutama apoteker onkologi, juga menjadi bagian dari upaya tersebut. Penanganan obat kemoterapi membutuhkan ketelitian, perhitungan dosis yang tepat, serta prosedur keselamatan yang ketat.
Kemenkes Terapkan Validasi AI Medis
Seminar ini juga membahas penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam layanan kesehatan. Rizka mengatakan Kemenkes telah menerbitkan regulasi teknologi medis berbasis AI dan membentuk Komite AI untuk meninjau serta memvalidasi penggunaannya.
“Penggunaan artificial intelligence sangat masif, tapi tentu harus ada kurasinya, tidak semua benar. Kita harus mengadopsi agar tidak ketinggalan, tetapi perlu validasi. Di Kemenkes kita sudah punya aturan untuk medical technology berbasis AI dan punya Komite AI untuk mereviu,” jelasnya.
Kemenkes merencanakan pengadaan alat kesehatan dan pengembangan layanan secara bertahap hingga 2029. Program tersebut mencakup pemesanan dan pemasangan alat, pembangunan bunker radioterapi, serta pemenuhan tenaga kesehatan dan dokter spesialis.
“Pengadaan alat canggih butuh proses indent, instalasi, hingga pembangunan bunker radioterapi. Semua sudah diprogramkan bertahap sampai 2029. Alat, SDM, hingga dokter spesialis diharapkan sudah terpenuhi seluruhnya,” tutupnya. (*)













