Ironi di Balik Wajah Baru Pasar Sentul Jogja, Megah tapi Pedagang Megap-megap

0
71
Pedagang di lantai bawah pasar Sentul, Yogyakarta. (Istimewa)

Narsih (67) duduk di kios snack selebar dua meter di lantai satu Pasar Sentul. Wajahnya merefleksikan kelelahan yang tak hanya fisik. 

“Kadang ada yang bisa dibawa pulang alhamdulillah, kadang malah tidak dapat apa-apa,” ujarnya saat ditemui wartawan, Rabu (21/1/2026).

Perempuan yang telah puluhan tahun berdagang ini menyimpan kenangan berbeda tentang pasar nan megah ini. 

Dulu, dengan omzet Rp300.000, ia masih bisa meraup untung Rp30.000 dan ikut arisan di kampung. Kini, keuntungan Rp20.000 dalam sehari pun jadi hal yang langka.

Kisah Narsih bukan kasus tunggal. Ia adalah wajah dari paradoks revitalisasi pasar di Yogyakarta, bangunan kian megah, pedagang justru megap-megap.

Fenomena serupa terjadi di pujasera lantai 3, banyak yang tutup karena omzet anjlok usai dipindah dari Sewadanan Pura Pakualaman. Ditambah uang sewa yang terus naik.

Salah satu pedagang siomay yang enggan disebutkan namanya mengaku penghasilan turun drastis. “Dulu dalam sehari bisa menjual ratusan porsi. Kini setelah relokasi, bisa menjual 10 porsi adalah keajaiban,” ujarnya.

Akar masalahnya kompleks, di lantai 3 desain rooftop yang tertutup disebut merupakanmasalah utama. Selain itu kurangnya publikasi dan aktivasi dari instansi terkait juga menjadi perhatian.

Sementara di lantai bawah, jumlah pedagang berlipat dua tanpa diimbangi peningkatan pembeli, aturan zonasi yang kaku membatasi fleksibilitas berdagang, dan persepsi keliru bahwa pasar modern identik dengan harga mahal.

“Dikira tempatnya bagus jadi dikirain mahal, padahal ya sama saja. Justru sekarang lenih bersih dan lebih enak,” ujarnya.

Belum lagi perubahan perilaku pasca-pandemi. Masyarakat kini lebih memilih berbelanja di pedagang pinggir jalan yang lebih fleksibel.

Merespons keluhan, Wali Kota Hasto Wardoyo menjanjikan dispensasi pembayaran, diskon sewa, dan gelaran acara untuk meramaikan pasar.

Namun bagi Narsih dan pedagang lainnya, waktu terus berjalan. Setiap hari tanpa pembeli adalah hari tanpa makan. “Ya mohon pemerintah itu bantu-bantu promosi,” harapnya. (*)