Embung Giwangan Asat, Kekeringan di Jogja Makin Meluas

0
4

Embung Giwangan, Kota Jogja, mulai asat atau mengering akibat kekeringan berkepanjangan. Penyusutan volume air disebut jauh lebih parah dibandingkan kondisi normal.

Devi, pedagang di kawasan Embung Giwangan, mengatakan biasanya penyusutan air terjadi karena pintu air ditutup. Namun, kondisi kali ini berbeda.

“Biasanya karena ditutup pintu air, tapi sekarang memang surut banget karena kekeringan,” ujar Devi saat dihubungi wartawan.

Kondisi ini terjadi saat Pemda DIY memperpanjang status siaga darurat kekeringan hingga akhir November 2026. Sejumlah wilayah masih diperkirakan menghadapi periode kering dalam beberapa pekan ke depan.

Kepala BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata mengatakan kekeringan terparah terjadi di Gunungkidul, terutama Tepus dan Rongkop, serta mulai meluas ke Ngedangsari.

Ancaman krisis air bersih juga muncul di Kulon Progo dan Bantul. BPBD DIY meninjau Girimulyo, Kulon Progo, untuk memastikan penyaluran bantuan dropping air berjalan lancar. Di Bantul, kekeringan dilaporkan terjadi di Geger dan kawasan perbukitan atas Parangtritis.

Data BMKG menunjukkan Hari Tanpa Hujan (HTH) di DIY berpotensi mencapai 141 hari. Ruruh memperkirakan hujan mulai muncul pada pertengahan hingga akhir November, meski ada prediksi lain yang menyebut hujan baru turun awal Desember.

“Sejumlah wilayah DIY masih harus melewati periode kering dalam beberapa pekan ke depan, namun lokasi yang butuh dropping air masih bisa terpenuhi dengan baik,” kata Ruruh, Rabu (30/9/2026).

Kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran lahan. BPBD DIY mencatat 369 kejadian kebakaran, terdiri atas 232 kebakaran hutan/lahan dan 137 kebakaran bangunan.

Rangkaian kejadian itu menyebabkan satu orang meninggal, 14 luka-luka, dan tiga orang mengungsi. Kerugian material ditaksir mencapai Rp7,35 miliar.

BPBD DIY kini mengajukan pembangunan sumber air baru, sumur dalam, serta perluasan jaringan distribusi air di Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo kepada BNPB. Namun, realisasinya masih menunggu kepastian anggaran.

“Pengajuan sudah kita lakukan, tapi sampai hari ini belum ada kepastian untuk anggarannya disetujui atau tidak,” pungkas Ruruh. (*)