AI dan Otomatisasi Kurangi Kebutuhan Awak Kapal, Perwira Muda Diminta Terus Belajar

0
2
96 perwira muda lulusan Sekolah Tinggi Maritim Yogyakarta (STIMARYO) mengikuti pelepasan Bon Voyage dan Wisuda Periode Oktober 2026 di Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026). Perkembangan AI dan otomatisasi menjadi tantangan baru bagi lulusan karena kebutuhan awak kapal diperkirakan semakin berkurang. (zukhronnee muhammad)

Pesatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi di industri maritim diperkirakan berdampak pada berkurangnya kebutuhan awak kapal. Kondisi tersebut membuat perwira muda dituntut adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh dari bangku kuliah.

Ketua Sekolah Tinggi Maritim Yogyakarta (STIMARYO), Dr. Wegig Pratama, M.Pd., mengatakan perwira laut harus mampu mengembangkan kompetensinya secara mandiri karena perkembangan teknologi berlangsung lebih cepat dibandingkan perubahan kurikulum pendidikan.

“Saya cenderung kalau untuk digitalisasi AI ini, pokoknya yang penting anak-anak ini adaptif. Jadi, dia mau otodidak atau melalui kurikulum, dia harus berusaha untuk mengembangkan dirinya. Karena tidak akan lepas dari situ. Sekarang kapal itu otonom, sudah otomatis banyak, sehingga awak itu dikurangi banyak. Kedua, untuk rantai pasok (supply chain), ini semuanya sudah menggunakan sistem sehingga tidak butuh orang. Anak-anak ini saya suruh untuk menggali keilmuannya berdasarkan kemajuan teknologi AI existing. Kalau dosen kan tidak bisa mengikuti cepat, mahasiswa sendiri yang harus berusaha. Kalau tidak belajar sendiri ya ketinggalan, khususnya untuk digitalisasi ini,” papar Wegig dalam upacara pelepasan Bon Voyage dan Wisuda Periode Oktober 2026 yang berlangsung pada Jumat-Sabtu (2-3/10/2026) di Yogyakarta.

Sebanyak 96 perwira muda lulusan STIMARYO dilepas dalam kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 52 sarjana Program Studi (S1) Transportasi, 28 ahli madya (D3) Manajemen Transportasi Laut, sembilan ahli madya (D3) Studi Nautika, dan tujuh ahli madya (D3) Permesinan Kapal.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Sumber Daya Manusia yang Adaptif, Berkarakter & Berdaya Saing Global”. Tantangan perubahan teknologi menjadi salah satu perhatian dalam pelepasan perwira muda pelayaran niaga tersebut.

Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., yang bertindak sebagai Inspektur Upacara Bon Voyage, mengatakan industri maritim kini bergerak dari sistem manual menuju operasional yang semakin terdigitalisasi, otomatis, dan ramah lingkungan.

Menurut dia, digitalisasi, AI, otomatisasi pelabuhan, hingga penggunaan kapal tanpa awak mulai menjadi bagian dari perkembangan industri maritim.

Merujuk kajian Tapaninen dan Hering (2026), Setyabudi mengatakan teknologi tersebut membuat sistem logistik laut semakin presisi. Upaya mewujudkan green shipping juga mulai diarahkan melalui pemanfaatan digital twins berbasis AI untuk mendukung pelabuhan pintar dengan target pengurangan emisi karbon.

Namun, perkembangan teknologi tersebut juga menghadirkan risiko baru, terutama terkait keamanan siber.

“Berdasarkan Laporan Transport Policy, para profesional laut harus mewaspadai eskalasi ancaman kejahatan siber yang semakin nyata di ruang perairan digital, sehingga SDM maritim dituntut tidak hanya menguasai keahlian teknis bernavigasi, tetapi mahir memahami data,” paparnya.

Menghadapi perubahan tersebut, STIMARYO juga menekankan penguatan karakter dan soft skill taruna. Wegig mengatakan kemampuan teknis perlu berjalan bersama dengan kemampuan nonteknis karena karakter dan kemampuan manusia tetap dibutuhkan dalam dunia kerja.

“Jadi kami secara rutin di dalam kurikulum maupun pembinaan-pembinaan non-kurikulum, ya soft skill, karakter ini kami tekankan. Karena kami meyakini di samping hard skill atau kompetensi, soft skill dan karakter ini tidak bisa lepas dari karier mereka di lapangan. Kami meyakini itu, sehingga kami selalu melakukan kegiatan-kegiatan non-kurikulum ini untuk membekali taruna. Penanaman karakter itu melalui kegiatan-kegiatan kesamaptaan yang ada. Jadi fisik harus bagus, mental harus bagus, akademik harus bagus, tapi dia tetap harus inovatif dan adaptif,” jelas Wegig.

Menurut Wegig, pembentukan karakter tersebut antara lain dilakukan melalui kegiatan kesamaptaan untuk menjaga kesiapan fisik dan mental taruna. Pendidikan tersebut juga diarahkan untuk menanamkan integritas, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris juga menjadi bagian dari pembekalan. Setiap taruna diwajibkan memiliki skor TOEFL minimal 450.

“Salah satu contoh, taruna ini kita bekali bahasa Inggris di samping kurikulumnya 9 SKS, dia harus ke Pare, dan dia harus punya TOEFL 450. Dan kita di samping itu untuk supaya terjadi English community-nya di sini, kita membentuk Unit Kegiatan Taruna (UKP), English setting istilahnya untuk supaya lebih menarik,” ungkapnya.

Di tengah perubahan teknologi dan tuntutan standardisasi maritim global, minat masyarakat terhadap pendidikan maritim disebut masih tinggi. Wegig mengatakan jumlah taruna baru STIMARYO meningkat 40 persen dibandingkan penerimaan sebelumnya.

“Kalau dari segi raw input, kemarin kami naik 40 persen jumlah tarunanya. Ini tidak luput dari memang dunia maritim selalu berkembang sesuai dengan kodratnya. Sehingga selama masyarakat itu bisa memandang bahwa untuk mengubah nasib keluarga itu melalui maritim, mereka akan mempunyai niat untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah maritim. Kalau alat internasional kita punya, semuanya standar internasional dan sudah disahkan. Tantangan tersendiri kalau saya cuma bagaimana kita bisa membentuk taruna supaya dia bisa adaptif dan inovatif tentang digitalisasi tadi, karena belum tentu anak itu punya kemauan yang sama,” pungkas Wegig.

STIMARYO menilai tantangan utama pendidikan maritim saat ini bukan hanya memastikan lulusan memenuhi standar kompetensi, tetapi juga membentuk perwira yang mampu mengikuti perkembangan teknologi, berinovasi, dan tetap memiliki kemampuan fisik, mental, serta karakter yang dibutuhkan di dunia kerja. (*)