
Senyum seorang tenaga kesehatan mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi pasien yang sedang menghadapi rasa sakit dan kecemasan, senyum bisa menjadi sumber kekuatan. Di balik keterampilan medis, ada empati dan kesantunan yang ikut menentukan bagaimana seorang pasien diperlakukan.
Nilai itulah yang coba ditanamkan SMK Kesehatan Cipta Bakti Husada Yogyakarta kepada para siswanya. Bagi sekolah kejuruan kesehatan ini, mencetak tenaga medis masa depan bukan semata-mata soal kemampuan akademis dan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk pribadi yang santun dan berakhlak mulia.
Pesan tersebut mengemuka dalam puncak kegiatan CPH Bersolawat Volume 6 di Pendopo SMK Kesehatan Cipta Bakti Husada Yogyakarta, Selasa (29/9/2026). Kegiatan yang digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah itu diikuti 495 peserta.
Lantunan selawat mengiringi suasana khidmat yang dihadiri siswa muslim, guru, karyawan, warga sekitar, tamu undangan, serta perwakilan unit usaha yayasan, LKP CPH, dan CFA. Acara juga menghadirkan penceramah Habib Umar Zaki dan Ustaz Taufik.
Sementara itu, siswa nonmuslim mengikuti kegiatan keagamaan tersendiri bersama guru pembimbing di ruangan terpisah.
Di sela-sela kegiatan, Kepala SMK Kesehatan Cipta Bakti Husada, Wijayanta, menjelaskan tema CPH Bersolawat tahun ini, yakni Menggapai Manisnya Mahabah Sang Kekasih Allah, Santun dalam Bersikap, Mulia dalam Akhlak.
Menurut dia, tema tersebut berkaitan erat dengan karakter yang perlu dimiliki seorang tenaga kesehatan ketika berhadapan dengan pasien.
“Senyum dari seorang tenaga medis saja bisa menjadi penyembuh bagi pasiennya dan memberikan penyemangat,” ungkap Wijayanta, Selasa (29/9/2026).
Bagi Wijayanta, kemampuan memberikan pelayanan kesehatan tidak cukup hanya diukur dari penguasaan ilmu dan keterampilan. Sikap santun, kepedulian, serta kemampuan memahami kondisi pasien juga menjadi bagian penting dalam profesi tersebut.
Nilai itu sejalan dengan moto sekolah, Berakhlak Mulia, Berprestasi, dan Mendunia. Pembentukan karakter diharapkan menjadi bekal bagi siswa ketika kelak memasuki dunia kerja yang menuntut kepekaan sosial tinggi.
Membekali Siswa Menembus Dunia Kerja Internasional
Pembentukan karakter tersebut berjalan beriringan dengan upaya sekolah membuka peluang karier bagi para lulusan. Salah satunya melalui penempatan tenaga caregiver atau pendamping lansia di Jepang.
Di tengah meningkatnya kebutuhan tenaga pendamping lansia di Negeri Sakura, jalur tersebut menjadi salah satu pilihan bagi siswa dan alumni SMK Kesehatan Cipta Bakti Husada untuk mengembangkan karier di luar negeri.
Wijayanta memaparkan, sejak 2024 hingga September 2026, sudah ada delapan alumni yang berada di Jepang. Dua alumni lainnya dijadwalkan berangkat pada akhir September 2026.
Program tersebut dirancang melalui tahapan pendidikan dan kerja dengan total durasi delapan tahun. Para peserta akan menjalani pendidikan selama tiga tahun, terdiri atas satu tahun pembelajaran bahasa Jepang dan dua tahun pendalaman bidang caregiver.
Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka melanjutkan masa kerja selama lima tahun.
Untuk mempersiapkan peserta, sekolah menjalin kerja sama dengan pihak Jepang secara langsung maupun melalui sejumlah lembaga pelatihan kerja (LPK), antara lain Insan Medika dan lembaga caregiver rujukan di Bogor.
Sekolah juga menyediakan kelas bahasa Jepang khusus agar siswa memiliki bekal komunikasi sebelum memasuki lingkungan kerja internasional.
Di Jepang, para alumni tidak hanya akan berinteraksi dengan warga lokal. Mereka juga berkesempatan bekerja bersama tenaga kesehatan dari berbagai negara, seperti Vietnam, Thailand, Myanmar, hingga negara-negara Afrika.
Seluruh siswa juga dipersiapkan mengantongi sertifikasi resmi sebagai caregiver melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Asnakes Indonesia.
Jalur tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memperluas kesempatan kerja lulusan sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi lingkungan profesional yang beragam.
Belajar Melayani dari Lingkungan Sekitar
Meski membuka peluang karier hingga ke luar negeri, pembelajaran di SMK Kesehatan Cipta Bakti Husada tidak hanya berorientasi pada dunia kerja internasional.
Sekolah yang berdiri sejak 2009 dan menempati gedung baru di lokasi saat ini sejak 2018 tersebut juga membekali siswa dengan pengalaman praktik melalui konsep Teaching Factory (TEFA) bernama Harmoniker.
Melalui unit tersebut, siswa dilibatkan dalam pelayanan kepada masyarakat, mulai dari persewaan alat kesehatan hingga layanan pendampingan lansia atau day care lansia.
Kegiatan ini berawal dari aktivitas sosial kemasyarakatan, termasuk integrasi Posyandu di lingkungan sekitar sekolah. Seiring perkembangannya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari laboratorium praktik bagi siswa.
Dalam pelaksanaannya, siswa mendapat pendampingan guru-guru yang telah memiliki sertifikat caregiver. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Saat ini, SMK Kesehatan Cipta Bakti Husada memiliki 332 siswa aktif yang terbagi dalam 11 kelas, terdiri atas delapan kelas keperawatan dan tiga kelas farmasi.
Melalui pembelajaran tersebut, siswa diperkenalkan pada situasi pelayanan kesehatan yang membutuhkan ketelitian, keterampilan, komunikasi, dan kepedulian terhadap orang lain.
Perjalanan sekolah ini memperlihatkan bagaimana pendidikan vokasi kesehatan berupaya menghubungkan pembentukan karakter, pengalaman praktik, dan peluang kerja.
Dari lingkungan sekolah di Yogyakarta hingga kesempatan bekerja di Jepang, bekal yang disiapkan bukan hanya keterampilan merawat pasien, melainkan juga sikap dalam memperlakukan sesama.
Sebab, di dunia kesehatan, kemampuan profesional dan kepedulian terhadap manusia berjalan beriringan. Dan bagi seorang tenaga kesehatan, pelayanan yang baik bisa dimulai dari hal sederhana: memperlakukan pasien dengan santun dan memberikan senyum ketika mereka membutuhkannya.













