Bus Gratis Jadikan Puluhan Buruh Gendong Tak Lagi Tidur di Emperan

0
95
Bus gratis untuk buruh gendong pasar Beringharjo. (istimewa)

Setiap malam, Pariyem menatap langit Yogyakarta dari emperan toko di sekitar Pasar Beringharjo. Kardus bekas menjadi alas tidurnya. Bukan karena tak punya rumah, tapi karena uang Rp20.000 untuk pulang terlalu berharga dibanding segepok kardus gratis.

“Kalau sepi, ya tidur sini saja. Daripada uang habis di jalan,” ujar perempuan 65 tahun asal Sentolo, Kulonprogo itu kepada wartawan saat ditemui Kamis (27/11/2025).

Sejak subuh, Pariyem sudah berjalan satu kilometer ke jalan besar, naik bus Wates-Jogja, lanjut Trans Jogja. Total ongkos pulang-pergi Rp20.000-Rp21.000. Sementara penghasilannya? Hanya Rp40.000-Rp70.000 sehari—kalau beruntung.

Hitungannya sederhana namun terbilang kejam, karena setengah hasil dari buruh gendong habis di jalan. Jika pelanggan sepi, pulang berarti keluarga tak makan. Maka emperan toko jadi pilihan.

Tapi Jumat kemarin, untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, Pariyem pulang dengan hati lapang. BMT Beringharjo menyediakan bus gratis khusus buruh gendong dan pedagang pasar rute Sentolo-Beringharjo. Berkapasitas 30 orang, bus itu mengangkut impian sederhana: tidur di rumah sendiri.

“Yang penting bisa pulang-pergi. Alhamdulillah sekarang ada bantuan bus ini,” katanya, mata berkaca-kaca.

Menteri Koperasi dan UMKM Ferry Joko Julianto menyebut program ini untuk meringankan beban 95 buruh gendong dari Sentolo—jumlah terbanyak—plus pengayuh becak yang nasibnya sama.

Ketua KSPPS BMT Beringharjo Mursida Rambe menegaskan, pihaknya ingin meringankan beban siapapun dalam kegiatan ekonomi di Beringharjo.

Malam ini, Pariyem akan tidur di kasurnya. Bukan di atas kardus. Impian sederhana yang akhirnya jadi nyata. (*)