Botol Plastik Jadi Beasiswa, Unisa Yogyakarta Bantu 90 Mahasiswa

0
3
UNISA Yogykarta menyalurkan bantuan Rp20 Juta untuk UMKM Disabilitas melalui kolaborasi dengan Himpunan Disabilitas Muhammadiyah (Hidimu) DIY. (Zukhronnee muhammad)

Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta mengolah botol plastik bekas menjadi sumber dana beasiswa bagi mahasiswa. Melalui program Mahasiswa Sadar Infak Sedekah (Madaris) bersama Lazismu Unisa Yogyakarta, hasil penjualan botol plastik dan infak mahasiswa telah membantu sekitar 90 mahasiswa.

Pembina Madaris sekaligus Manajer Eksekutif Lazismu Unisa Yogyakarta, Andis, mengatakan program tersebut dirancang agar kepedulian terhadap lingkungan dapat memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa.

“Tujuan kita sebenarnya ingin menyosialisasikan kepada mahasiswa bahwa infak yang kalian berikan ke Lazismu, ke Madaris itu akan kembali ke mahasiswa itu sendiri dalam bentuk program beasiswa,” ujar Andis.

Program tersebut diperkenalkan dalam Unisa Fest 2026 yang berlangsung di Kampus Terpadu Unisa Yogyakarta pada Jumat–Sabtu (9–10/10/2026). Memasuki usia ke-34 tahun, Unisa Fest mengusung tema Melampah Sesarengan dengan menghadirkan kegiatan sosial, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta aksi kepedulian lingkungan.

Pengelolaan botol plastik bekas melalui Madaris dan Lazismu Unisa telah dimulai sejak 2024. Botol yang dikumpulkan mahasiswa terlebih dahulu dipilah sebelum dijual kepada pengepul. Tutup botol dan label merek dilepas, kemudian botol dikelompokkan berdasarkan warna materialnya.

Hasil penjualan botol selanjutnya dihimpun bersama dana infak mahasiswa, termasuk Infak Senin-Kamis dan Infak Serdadu, untuk mendukung program beasiswa dan bantuan sosial.

Program tersebut mencakup Beasiswa Living Cost berupa bantuan sembako setiap bulan serta Beasiswa Serdadu berupa bantuan tunai Rp1,5 juta per mahasiswa setiap semester. Beasiswa Serdadu dibuka setiap awal semester dengan kuota hingga 30 mahasiswa per periode.

Secara keseluruhan, sekitar 90 mahasiswa telah menerima manfaat dari program Beasiswa Botol Bekas dan Infak Serdadu. Dana infak juga dapat digunakan untuk membantu mahasiswa yang kesulitan membayar biaya kuliah maupun membutuhkan biaya pengobatan.

Kumpulkan 1.500 Botol Plastik

Pengumpulan botol plastik juga menjadi bagian dari komitmen Unisa Yogyakarta dalam mewujudkan kampus hijau atau Green Campus. Program ini mendorong penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R), sekaligus mengedukasi mahasiswa dan pengunjung agar terbiasa memilah sampah.

Selama Unisa Fest 2026, pengunjung diajak membawa minimal tiga botol plastik bekas yang telah dibersihkan untuk dikumpulkan dan dikelola melalui Madaris.

Andis mengatakan, hingga hari kedua pelaksanaan festival, jumlah botol plastik yang terkumpul diperkirakan mencapai sekitar 1.500 botol. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena pengumpulan berlangsung hingga sore hari.

Menurut Andis, pada awal program, botol plastik yang terkumpul masih bercampur dengan sampah makanan dan sampah rumah tangga. Namun, edukasi serta sosialisasi secara rutin mulai mengubah kebiasaan mahasiswa dalam memilah sampah.

“Tujuan kita ingin mengajak teman-teman mahasiswa, ayo peduli lingkungan. Kita sama-sama pilah botol kita sendiri dan ayo kita kelola dengan baik, barangkali ke depannya bisa lebih bermanfaat buat teman yang lain,” kata Andis.

Madaris dan Lazismu Unisa Yogyakarta berencana memperluas edukasi pemilahan sampah ke masyarakat sekitar kampus. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran bahwa sampah botol plastik memiliki nilai ekonomi dan dapat dimanfaatkan untuk membantu sesama.

Salurkan Rp20 Juta untuk UMKM Disabilitas

Selain pengelolaan sampah, Unisa Fest 2026 menghadirkan kegiatan pemberdayaan UMKM penyandang disabilitas melalui kolaborasi dengan Himpunan Disabilitas Muhammadiyah (Hidimu) DIY.

Wakil Rektor IV Unisa Yogyakarta, Ali Imron, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus memperluas kontribusi kepada masyarakat melalui diseminasi hasil riset, kegiatan sosial, dan pemberdayaan UMKM, terutama yang berada dalam jaringan Muhammadiyah.

Unisa Yogyakarta memiliki UMKM binaan di bawah Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial, dan Humaniora, khususnya Program Studi Manajemen. Dalam Unisa Fest 2026, para pelaku usaha mendapat ruang untuk memperkenalkan produk dan mengembangkan usahanya.

Imron menegaskan, bantuan bagi UMKM disabilitas diarahkan untuk memperkuat modal usaha yang telah berjalan, bukan sekadar memberikan bantuan konsumtif.

“UMKM yang disabilitas ini bukan untuk diberikan bantuan atau konsumsi, tetapi mereka memang sudah memiliki usaha, sehingga sumbangan yang kita berikan itu dapat menambah modal mereka,” kata Imron, Sabtu (10/10/2026).

Dana bantuan yang disiapkan mencapai Rp20 juta. Dana tersebut berasal dari kegiatan amal atau charity serta dukungan internal Unisa Yogyakarta.

Selain penyaluran bantuan, Unisa Fest menghadirkan Pasar Rakyat yang melibatkan 20 tenant UMKM, termasuk pelaku usaha dari masyarakat sekitar kampus dan penyandang disabilitas. Keterlibatan mereka menjadi salah satu upaya kampus mendukung pemberdayaan ekonomi lokal.

Perwakilan Hidimu DIY, Ma’ruf, mengapresiasi dukungan Unisa Yogyakarta terhadap pengembangan UMKM penyandang disabilitas di DIY.

“Terima kasih kepada Unisa yang sudah memberikan dukungannya terhadap disabilitas Muhammadiyah (MDC Muhammadiyah Disabilitas Indonesia DIY). Kegiatan kali ini menghadirkan teman-teman dari Hidimu yang terkait dengan UMKM. Harapannya, dengan kolaborasi ini nanti bisa mengembangkan UMKM Hidimu menjadi pribadi yang mandiri dan lebih baik lagi, agar teman-teman juga bisa mengembangkan potensi-potensinya ke depan,” ujar Ma’ruf.

Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, menjelaskan bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari kesinambungan pengabdian kampus. Program tersebut mencakup pemanfaatan hasil riset, kepakaran dosen, kegiatan sosial, pendampingan UMKM, serta dukungan bagi kelompok disabilitas.

“Kita memang sudah memiliki UMKM binaan di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE), terutama Program Studi Manajemen. Melalui wadah itulah kita melakukan pendampingan, termasuk untuk himpunan disabilitas. Fokusnya bukan sekadar memberikan bantuan konsumtif, melainkan bantuan modal untuk mengembangkan usaha yang sudah mereka rintis,” jelas Warsiti.

Para pelaku UMKM disabilitas juga mendapat kesempatan memasarkan produk unggulan melalui stan yang disediakan selama kegiatan berlangsung.

Melalui Unisa Fest 2026, kampus berupaya menghubungkan perayaan hari jadi dengan program pemberdayaan ekonomi, pengelolaan sampah, dan bantuan pendidikan. Pengelolaan botol plastik menjadi salah satu bentuk upaya mengubah sampah menjadi sumber manfaat bagi mahasiswa sekaligus mendorong kepedulian lingkungan di masyarakat. (*)