Garebeg Mulud Keraton Jogja Tahun Ini Tanpa Gunungan dan Kirab Prajurit

0
3
Sri Sultan Hamengku Buwono X saat prosesi Kondur Gangsa. (dok keraton jogja)

Ada yang berbeda dari Garebeg Mulud di Keraton Yogyakarta tahun ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi iring-iringan prajurit dan gunungan akan lengang dari tradisi tersebut.

Garebeg Mulud Be 1960 yang bertepatan dengan 2026 digelar lebih sederhana. Tidak ada gunungan yang keluar keraton, begitu pula kirab prajurit.

Namun, kesederhanaan itu bukan berarti Hajad Dalem Sekaten kehilangan makna.

Rangkaian Sekaten tetap berjalan. Salah satunya Miyos Gangsa pada Rabu (19/8/2026), saat dua gamelan pusaka, Kangjeng Kyai Guntur Madu dan Kangjeng Kyai Nagawilaga, dikeluarkan dari keraton menuju Masjid Gedhe.

Tahun ini, masyarakat bahkan mendapat kesempatan menyaksikan prosesi Miyos Gangsa dari Kagungan Dalem Pagelaran. Sebelum gamelan diberangkatkan, Utusan Dalem menyebarkan udhik-udhik berupa beras, uang logam, biji-bijian dan bunga sebagai simbol sedekah serta doa keberkahan.

Nuansa Sekaten juga tetap terasa di sekitar Masjid Gedhe. Masyarakat dapat menikmati tabuhan gamelan sekaligus sajian khas seperti sego gurih, endog abang, sate gajih dan roti kembang waru. Permainan serta kerajinan tradisional seperti kapal thot-thot, pecut Sekaten dan gerabah juga tetap hadir.

Kesederhanaan paling terasa saat Garebeg Mulud pada Rabu (26/8/2026). Keraton meniadakan Gladhi Resik Prajurit dan Numplak Wajik. Tidak ada pula gunungan dan iring-iringan prajurit.

Sebagai gantinya, sedekah raja kepada kawula diwujudkan melalui pembagian ubarampe pareden berupa rengginang kepada para abdi dalem di Kagungan Dalem Bangsal Srimanganti.

Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Sindurejo, menyebut perubahan bentuk Garebeg bukan hal baru dalam sejarah keraton.

“Ini menunjukkan bahwa rangkaian upacara budaya dapat berubah sesuai masanya, situasi dan kondisinya, asalkan esensinya tetap sama,” tandasnya. (*)