Inggris Dukung Transportasi Jogja, Jalur Kereta ke Bantul Masuk Pembahasan

0
18
) Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Datu Dana Suyasa, GKR Mangkubumi saat memberikan keterangan kepada wartawan. (zukhronnee muhammad)

Harapan warga untuk kembali melihat kereta api melintas hingga Bantul mulai menemukan titik terang. Wacana ini mencuat saat kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, ke Stasiun Yogyakarta, pada Rabu (8/4/2026), GKR Mangkubumi.

GKR Mangkubumi yang merupakan putri sulung Sri Sultan Hamengku Buwono X sekaligus Penghageng Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Datu Dana Suyasa di Keraton Yogyakarta ini menyebut, perluasan jaringan kereta menjadi kebutuhan mendesak seiring padatnya aktivitas di Stasiun Tugu.

“Kita ingin pengembangan kereta api ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Kalau bisa, jalurnya kita kembalikan sampai Bantul,” ujarnya.

Wacana ini bukan hal baru. Bantul pernah dilintasi jalur kereta sejak era kolonial. Jalur Yogyakarta–Palbapang–Sewugalur railway mulai beroperasi pada akhir abad ke-19, menghubungkan Kota Jogja dengan wilayah selatan hingga Kulon Progo. Saat itu, kereta menjadi andalan angkutan hasil pertanian dan industri.

Namun, jalur ini mulai hilang sejak masa pendudukan Jepang pada 1943, ketika sebagian rel dibongkar untuk kebutuhan perang. Setelah kemerdekaan, operasional sempat bertahan, tetapi akhirnya berhenti total sekitar 1970-an karena kalah bersaing dengan transportasi jalan.

Kini, jejaknya masih terlihat dari bangunan stasiun lama dan sisa trase rel di beberapa titik Bantul.

Rencana reaktivasi ini mendapat dorongan dari kerja sama Indonesia–Inggris melalui program MELAJU, bagian dari kesepakatan Prabowo Subianto dan Keir Starmer. Inggris menawarkan dukungan teknis untuk transportasi rendah karbon dan terintegrasi.

“Kami ingin sistem transportasi yang inklusif dan bisa menjangkau semua lapisan masyarakat,” kata Dominic Jermey.

Di Yogyakarta, Kemitraan Strategis Inggris-Indonesia telah menunjukkan hasil yang nyata. Melalui MELAJU, Inggris mendukung transisi menuju sistem mobilitas perkotaan yang rendah karbon dan terintegrasi. (*)