Tanpa Eskalator dan Ventilasi Tidak Memadai, Pedagang Pasar Terban Merasa Terbebani

0
62
Salah satu sudut di los kuliner di lantai 3 pasar Terban, Yogyakarta. (zukhronnee muhammad)

Wajah baru Pasar Terban yang dibangun dengan anggaran Rp55,9 miliar dari pemerintah pusat kini menuai sorotan. Alih-alih memberi kenyamanan, desain gedung tiga lantai tersebut justru dinilai menyulitkan pedagang karena minim fasilitas vital, mulai dari ketiadaan eskalator hingga sistem ventilasi yang buruk.

Keluhan paling terasa datang dari pedagang kuliner yang dizonasi menempati lantai tiga. Rina, salah satu pedagang, mengaku kewalahan karena harus naik-turun tangga manual puluhan kali sehari untuk melayani pesanan pelanggan di lantai dasar.

“Kaki saya sampai sakit kalau malam. Pelanggan saya banyak di bawah, jadi harus naik-turun. Saya sampai beli troli khusus, tapi tidak terpakai karena anak tangganya terlalu tinggi,” kata Rina, Sabtu (17/1/2026).

Ia menilai absennya eskalator atau lift sangat menyulitkan mobilitas logistik, terutama bagi pedagang lansia yang masih aktif berjualan di Pasar Terban.

Persoalan lain muncul dari aroma menyengat aktivitas pemotongan unggas di lantai dasar yang tercium hingga area pujasera di lantai atas.

Pantauan di lokasi menunjukkan bau tersebut cukup mengganggu kenyamanan pengunjung. Desain void tengah yang terbuka justru berfungsi sebagai cerobong bau limbah ternak.

“Kalau orang sedang makan tentu terganggu. Bau dari bawah naik semua,” ujar Kristianti, pedagang lainnya. Solusi sementara berupa penutupan ventilasi dengan mika bening hingga kini baru sebatas wacana.

Tak hanya pedagang kuliner, puluhan penjahit dan jasa permak jeans juga terdampak. Meja beton permanen yang disediakan dinilai tidak ergonomis sehingga pedagang harus mengeluarkan biaya pribadi untuk modifikasi. “Meja beton terlalu tinggi dan sempit, lebih cocok buat jualan daging,” kata Hartini.

Menanggapi polemik tersebut, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyatakan bangunan Pasar Terban belum diserahterimakan dan masih tahap uji coba. “Masih evaluasi kekurangan. Jika ada keluhan segera kami laporkan untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.

Meski berstatus uji coba, pedagang mendesak perbaikan fasilitas mendasar agar pasar yang diproyeksikan menjadi ikon baru ini benar-benar ramah bagi semua. (*)