
Gelombang solidaritas masyarakat Yogyakarta untuk korban bencana banjir bandang di Sumatera terus mengalir. Pada Jumat (2/1/2026) sore, sebuah truk kemanusiaan yang membawa logistik penting resmi diberangkatkan menuju Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Pengiriman ini merupakan bantuan tahap ketiga hasil kolaborasi antara Dompet Dhuafa, gerakan seniman “Ngamen untuk Sumatera”, serta dukungan penuh dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Muhammad Zahran, Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta, menjelaskan bahwa bantuan tahap ketiga ini difokuskan pada kebutuhan mendesak yang belum sepenuhnya terjangkau di lokasi bencana.
“Di dalam truk ini, selain sembako untuk dapur umum, terdapat beauty kit, hygiene kit, serta kebutuhan khusus untuk lansia dan orang dewasa. Kami juga mengupayakan adanya genset dan mesin pompa air,” ujar Zahran pada Jumat (2/1/2026).
Ia menambahkan bahwa alat kelistrikan seperti genset menjadi prioritas vital untuk penerangan posko pengungsian dan fasilitas umum.
Perjalanan truk bantuan ini diperkirakan memakan waktu 5 hingga 7 hari. Zahran berharap cuaca di Selat Sunda bersahabat sehingga bantuan dapat segera disalurkan kepada sekitar 125 Kepala Keluarga (KK) yang masih bertahan di posko pengungsian Tapanuli Tengah.
Sebelumnya, bantuan tahap pertama dan kedua telah disalurkan ke wilayah Aceh dan Riau, meliputi mesin pompa, angkong untuk pembersihan material, hingga hunian sementara.
Energi dari Musisi Jalanan
Bantuan ini sebagian besar didanai dari hasil inisiatif “Ngamen untuk Sumatera” yang digerakkan oleh musisi Hilarius Daru Indrajaya (Ndarboy Genk) bersama rekan-rekan seniman Yogyakarta, mulai dari musisi jalanan Malioboro hingga seniman angklung.
Total donasi yang terkumpul dari gerakan ini mencapai sekitar Rp66 juta, yang menjadi bagian dari total bantuan Yogyakarta senilai Rp227 juta.
“Awalnya dari kegelisahan sendiri, lalu teman-teman musisi merespons. Harapannya, ‘Ngamen untuk Sumatera’ tidak perlu ada jilid selanjutnya, yang berarti Sumatera segera bangkit di tahun 2026 ini,” ungkap Ndarboy Genk.
Ia menekankan semangat “sithik-sithik, mbaka sithik” (sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit) dalam gerakan kemanusiaan ini.
Ndaru juga mengapresiasi spontanitas teman seniman yogyakarta yang ikut berpartisipasi dalam Ngamen untuk Sumatra ini. Termasuk cucu Sri Sultan Hamnegku Buwana X, Mas Marrel.
Pesan Lingkungan dan Mitigasi dari Keraton
Acara pelepasan ini turut dihadiri oleh Raden Mas Gusthilantika Marrel Suryokusumo, Dalam kesempatan tersebut, Marrel tidak hanya mengapresiasi solidaritas warga, tetapi juga menyampaikan kabar bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono X telah memberikan bantuan biaya hidup (living cost) selama enam bulan bagi mahasiswa asal Sumatera yang terdampak bencana di Yogyakarta.
Lebih jauh, Gusti Marrel menyoroti pentingnya kesadaran lingkungan sebagai upaya mitigasi bencana jangka panjang. Berkaca dari bencana di Sumatera, ia mengingatkan bahwa Yogyakarta pun memiliki tantangan serupa, terutama terkait kerusakan lingkungan akibat aktivitas ilegal.
“Apa yang diduga menjadi penyebab di Sumatera, Jogja sendiri pun punya masalah itu. Contohnya pada 2019-2020 di Merapi banyak tambang pasir ilegal. Pada 2021, Ngarsa Dalem dawuh untuk menutup 14 titik tambang ilegal demi mencegah bencana di masa depan,” tegasnya.
Melalui lembaga baru Bebadan Pangreksa Loka, Keraton berupaya menjaga lingkungan sesuai filosofi Hamemayu Hayuning Bawana. Gusti Marrel mencontohkan keberhasilan alih profesi di kawasan lereng Merapi dan Breksi, di mana mantan penambang kini beralih menjadi pelaku wisata (supir Jeep) yang lebih ramah lingkungan dan sejahtera.
“Bencana adalah tanda bagi kita untuk terus mawas diri. Gunung bali gunung (gunung kembali menjadi gunung), kita harus menjaga apa yang kita punya untuk 50 hingga 100 tahun ke depan,” pungkasnya.
Dompet Dhuafa menargetkan pembangunan 1.000 unit hunian sementara (huntara) berukuran 4,8 x 4,8 meter bagi para penyintas di Sumatera yang rumahnya rusak berat, sembari terus melakukan proses pemulihan fasilitas umum di daerah terdampak. (*)













