Luas Hanya 32 Km², Jogja akan Diserbu Sejuta Kendaraan Saat Nataru

0
131
Kendaraan melintas di persimpangan Kleringan yang telah di rekayasa jalurnya paskapenutupan jembatan Kewek, Kota Jogja. (zukhronnee muhammad)

Polresta Jogja memprediksi kepadatan lalu lintas ekstrem akan melanda wilayah Kota Jogja selama puncak libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Diperkirakan, sebanyak satu juta kendaraan akan memadati kota yang hanya memiliki luas wilayah 32,5 kilometer persegi tersebut.

Kapolresta Jogja, Kombes Pol Eva Guna Pandia, mengungkapkan kekhawatiran terkait ketimpangan ekstrem antara volume kendaraan yang masuk dengan kapasitas jalan yang tersedia di wilayah aglomerasi perkotaan.

“Informasi dari posko, kendaraan yang masuk estimasinya 900 lebih, bahkan mencapai 1 juta unit,” ujar Kombes Pol Eva Guna Pandia dalam keterangan pers di Mapolresta Jogja, Senin (22/12/2025).

“Sementara ruang jalan kita sangat terbatas, luas Kota Jogja hanya 32,5 kilometer persegi. Ini tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” lanjutnya.

Menghadapi potensi kemacetan tersebut, Kapolresta meminta wisatawan dan masyarakat lokal untuk menyiapkan mental dan kesabaran lebih saat berkendara di dalam kota.

“Maka dari itu kami imbau, seandainya ada kepadatan atau kemacetan, harap sabar. Kami pastikan personel kepolisian akan selalu turun ke jalan untuk pelayanan dan pengaturan,” tegas perwira menengah melati tiga tersebut.

Sementara itu, untuk mengurai simpul kemacetan di jantung kota, Kasat Lantas Polresta Jogja, AKP Alvian Hidayat, telah menyiapkan skenario rekayasa lalu lintas berlapis. Fokus utama penanganan berada di akses menuju Malioboro, khususnya kawasan Kleringan.

Alvian menjelaskan, jika volume kendaraan meningkat signifikan (merah), kepolisian akan menerapkan skema satu pintu untuk akses masuk Malioboro.

“Akses masuk ke Malioboro akan difokuskan hanya melalui Jalan Mataram. Kendaraan dari arah Kleringan tidak bisa langsung belok kiri, tetapi harus lurus ke Jalan Pasar Kembang,” jelas AKP Alvian Hidayat.

Sebagai solusi taktis, Jembatan Kewek (Kleringan) akan difungsikan sebagai jalur opsional pengurai beban (dekompresi) khusus untuk kendaraan roda dua jika terjadi kuncian arus (gridlock).

“Jembatan Kewek jadi opsional roda dua, tapi dengan syarat ruang tumpuannya tidak sampai berhenti di atas jembatan. Ini demi keselamatan konstruksi dan pengguna jalan,” pungkas Alvian. (*)